"Kami peduli akan nasib setiap pekerja di perusahaan pemasok kami di seluruh dunia," kata juru bicara Apple Steve Dowling dalam pernyataannya yang dilansir CNN dan dikutip detikINET, Kamis (9/2/2012).
"Kami bersikeras para pemasok kami menyediakan kondisi bekerja yang aman, memperlakukan para pekerja dengan hormat dan bermartabat, serta menggunakan proses manufaktur yang ramah lingkungan," jelas Dowling.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Januari silam, Apple mempublikasikan hasil audit perusahaan yang menjadi pemasoknya. Dalam laporan tersebut diketahui 62 persen dari 229 fasilitas tidak memenuhi kebijakan Apple.
Selain itu, sebanyak 44 persen tidak mengimplementasikan kajian risiko ergonomis yang diharuskan Apple. Padahal ini sangat penting guna mencegah terjadinya kecelakaan atau cedera yang menimpa para pekerja. Apple lantas memutuskan untuk mengakhiri kemitraan dengan dua pemasok yang melanggar ketentuan mereka.
Dowling menambahkan, Apple adalah perusahaan teknologi pertama yang diakui Fair Labor Association (FLA), yang memublikasikan hasil audit independen mengenai kondisi lingkungan kerja perusahaan yang menjadi pemasoknya.
Mark Shields dari Change.org yang menggagas aksi protes dalam petisinya memuji Apple yang meminta FLA memonitor para pemasok yang menjadi mitranya. Dia juga menyebutkan, aksi protes tidak dilakukan sebagai gerakan massa, namun hanya sebagai salah satu cara untuk meyakinkan bahwa Apple mendengar kritikan.
"Kami ingin Apple mengaplikasikan motto mereka 'think differently' dan menerapkannya pada cara mereka memperlakukan pekerja. Kami ingin Apple menjadi pemimpin di dunia teknologi yang memperlakukan pekerja dengan adil," ujarnya.
(rns/ash)