"Orang yang kecanduan situs porno itu bisa mengakibatkan kerusakan otak, terutama fungsi eksekutif di mana kita kan punya akal budi karena kita punya fungsi eksekutif tersebut. Ini yang membedakan kita sama kucing," kata Zoya Amirin M. Psi, psikolog seksual saat sesi wawancara dengan detikINET.
Padahal menurut Zoya, fungsi eksekutif membedakan manusia dengan binatang kala beraktivitas seksual. Fungsi eksekutif ada di otak depan di mana manusia berakal budi karena fungsi ini. Kalau kucing misalnya, langsung berburu pasangan dan kawin. Sedangkan manusia dalam keadaan paling terangsang sekalipun tetap punya pemikiran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan meski hanya sekali seminggu akses pornografi, tetap ada risiko fungsi otak rusak dalam jangka panjang. Dan kalau lebih sering mengakses konten cabul, Zoya menyatakan ada risiko alat perasa sampai tidak bisa merasakan rangsangan seksual lagi.
Hal itu karena kala menonton pornografi berarti ada proses yang terlewati dalam tahap rangsangan seksual. Sebab pelakunya tidak memakai feeling atau perasaan. Hal ini bisa merusak fungsi otak dan syaraf. Namun dampak semacam ini baru terjadi dalam jangka panjang.
"Susahnya kita tidak bisa merasakannya sekarang karena efeknya jangka panjang seperti merokok, mungkin umur 60 sampai 70 tahun," tukas wanita berparas cantik tersebut.
Sejatinya menurut Zoya, manusia terutama pihak lelaki masih bisa melakukan fungsi seksual sampai usia tua dengan pasangannya. Hal ini bisa membuat mereka lebih bahagia dan mungkin berumur panjang. Namun jika sejak muda sudah kecanduan hal porno, mereka berisiko tidak bisa menikmati hal tersebut karena terganggunya fungsi otak.
(fyk/ash)