Dijelaskan Ary Setijadi Prihatmanto, Manager Microsoft Innovation Center Institut Teknologi Bandung (MIC-ITB), komputasi awan merupakan komputasi berbasis internet.
Seluruh sumber daya, informasi, dan perangkat lunak sudah disediakan oleh provider. Pelanggan bisa memanfaatkan layanan cloud computing ini sesuai kebutuhan dan bisa diakses via desktop, laptop, tablet, smartphone, smartTV, serta perangkat lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengguna layanan komputasi awan cukup membayar berdasarkan layanan yang diinginkan dan kebutuhannya. Pengguna tidak dibebani biaya investasi pengadaan perangkat keras maupun perangkat lunak seperti yang terjadi selama ini.
Sejumlah perusahaan IT dunia pun dilaporkan sudah 'terbang ke awan'. IBM misalnya, pada Maret 2011 mengumumkan investasi USD 38 miliar untuk membangun pusat data yang disebut dengan IBM Asia Pacific Cloud Computing Data Centre di Singapura.
Adapun Fujitsu menanamkan modal hingga USD 1,1 miliar dolar untuk mengembangkan layanan cloud computing sekaligus melatih 5.000 spesialis teknologi komputasi awan hingga akhir 2012. Investasi ini untuk infrastruktur komputasi awan Fujitsu Infastructure as a Service.
Begitu juga dengan Google yang mengoperasikan sistem Cloud Chrome OS dan Intel dengan visi Intel's Cloud 2015 melalui layanan Intel Cloud Builder. Sedangkan Microsoft telah merilis layanan komersial SaaS dengan Office 365 dan platform komputasi awan, Windows Azure Platform.
Komputasi awan sendiri memiliki tiga segmen layanan, yakni perangkat lunak, platfom, dan infrastruktur dengan tujuan dan produk yang berbeda untuk kepentingan bisnis maupun individu.
(ash/fyk)