Menurut Ary Setijadi Prihatmanto, Manager di Microsoft Innovation Center Institut Teknologi Bandung (MIC-ITB), analogi tersebut dipakai karena untuk mengadopsi layanan komputasi awan, perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli perangkat keras maupun perangkat lunak. Perangkat ini sudah disediakan oleh provider sesuai kebutuhan pelanggan.
Jadi mirip-mirip dengan layanan air dan listrik. Kita cukup berlangganan kepada PLN secara bulanan dan membayar sesuai kebutuhan dan penggunaan listrik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Begitulah kira-kira cloud computing," tukas Ary, dalam keterangannya, Kamis (24/11/2011).
Komputasi awan sendiri memiliki tiga segmen layanan, yakni perangkat lunak, platfom, dan infrastruktur dengan tujuan dan produk yang berbeda untuk kepentingan bisnis maupun individu. Layanan pertama, Software as a Service (SaaS) adalah layanan berbasis konsep menyewakan perangkat lunak.
Dari layanan SaaS, industri dapat bermigrasi ke Platform as a Service (PaaS) yang menawarkan pengembangan platform untuk pengembang (developer). Pengguna layanan ini bisa membuat kode sendiri dan penyedia PaaS mengunggah dan menampilkan di web.
Layanan PaaS juga menyediakan layanan pengembangan, pengujian, penyebaran, hingga menjadi tuan rumah, dan menjaga aplikasi.
Sedangkan layanan ketiga, Infrastructure as a Service (IaaS) yang memungkinkan pengguna cloud computing membeli infrastruktur sesuai kebutuhannya.
Ada keuntungan yang bisa didapat dari layanan ketiga ini yakni pengguna hanya membayar layanan sesuai kapasitas yang mereka gunakan. Pengguna tidak perlu membayar mahal untuk membeli layanan yang sesungguhnya kurang banyak digunakan. Pengguna, baik individu maupun perusahaan, hanya membayar apa yang mereka pakai.
(ash/fyk)