Pekan lalu, Twitter secara resmi mengumumkan telah resmi mengakuisisi TweetDeck seharga USD 40 juta. Twitter mengatakan akuisisi ini merupakan langkah penting bagi mereka karena diyakini akan membuat perusahaannya tumbuh lebih pesat.
"TweetDeck menyediakan sebuah platform powerfull bagi brand, publisher, pelaku pemasaran dan lainnya untuk mengikuti percakapan real time yang mereka pedulikan," kata Chief Executive Twitter Dick Costolo memuji TweetDeck kala itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan ini muncul bermula dari kegeraman Twitter atas error yang terjadi pada UberTwitter (kini bernama Uber Social). Usut punya usut, masalah pada Twitter client favorit tweeps tersebut bersumber dari sang pemilik aplikasi, UberMedia.
Sebelumnya, UberMedia juga disebutkan berambisi untuk membeli Tweetdeck. Padahal UberMedia telah memiliki beberapa klien pengakses Twitter populer seperti EchoFon, Twidroyd dan UberSocial.
Di sinilah Twitter kian geram dan tak segan menilai UberMedia 'rakus' serta melanggar kebijakan aturannya, terkait dengan kepemilikan aplikasi pihak ketiga. Dengan banyaknya client populer, UberSocial seolah menantang Twitter dan client mobile resmi milik Twitter secara langsung.
Itu sebabnya, Twitter pun berkeras menjegal langkah UberMedia membeli TweetDeck. Twitter menawar TweetDeck lebih mahal dari yang UberMedia tawarkan. Alhasil, tanpa banyak perlawanan, TweetDeck pun menjatuhkan pilihannya untuk diakuisisi Twitter.
(rns/ash)