Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kolom Telematika
Social Media, Mampu Perbaiki Kesejahteraan Rakyat?
Kolom Telematika

Social Media, Mampu Perbaiki Kesejahteraan Rakyat?


- detikInet

Jakarta - Perkembangan baru dalam dunia IT telah terjadi. Ternyata, Socmed tidak hanya dapat kita gunakan untuk sekedar ‘narsis’ atau bersenda gurau dengan teman kita. Namun, Socmed dapat digunakan untuk memperbaiki kesejahteraan Rakyat kecil.

Bagaimanakah caranya? Mari kita simak, dengan menyimak juga kisah hidup seorang Blasius Haryadi.


Socmed telah menembus batas kelas sosial

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fenomena penggunaan social media (FB dan Twitter) sudah meluas ke berbagai kalangan, sebab bisa diakses melalui ponsel murah sekalipun. Dari kalangan atas seperti pejabat, pengusaha, pekerja kerah putih, mahasiswa dan anak-anak sudah kenal socmed.

Tapi ada juga kalangan pekerja kelas menengah ke bawah yang kenal socmed. Misal: tukang ojek, pembantu rumah tangga, dsb juga sudah mengenal socmed walau sebatas buat ajang gaul.

Mengapa kalangan mengengah ke bawah akhirnya bisa mengenal socmed? Semua itu tidak lain karena koneksi internet yang semakin terjangkau, dan semakin murahnya harga PC/Notebook dan Smartphone.

Perluasan coverage kelas sosial yang menggunakan internet inilah yang pada dasarnya menjadikan socmed menjadi platform yang egaliter, di mana siapapun dan di manapun dapat menggunakannya tanpa batasan kelas sosial.

Seorang rakyat jelata bisa saja berkomunikasi secara langsung dengan seorang pejabat, tanpa harus merasa ‘ewuh pakewuh’ (sungkan). Hal ini menjadikan socmed sebagai tools yang mempromosikan demokratisasi di dunia maya, yang pada akhirnya juga terjadi di dunia nyata.

Sebenarnya socmed bisa juga menjadi alat untuk memperbaiki kesejahteraan pekerja kalangan bawah, sebab membantu mereka menarik pelanggan, memperluas wawasan, menerobos batas kasta social di dunia nyata.

Seperti yang disebut di atas, akhirnya demokratisasi itu terjadi, ketika seorang Blasius Haryadi dapat menggunakan socmed untuk menyuarakan pendapatnya, dan mereka yang berasal dari kasta sosial lebih tinggi mendengarkan aspirasinya. Mari kita simak kisah Mas Harry di bawah ini.


Perjuangan Hidup Blasius Haryadi Terbantu oleh Social Media

Menjadi supir becak alias mbecak bukan cita-cita seorang Blasius Haryadi. Putra seorang single parent ini memutuskan berhenti kuliah saat di semester 5, fakultas MIPA IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta demi membantu ekonomi keluarga.

Barangkali karena pernah mengenyam pendidikan tinggi, maka Harry, demikian ia disapa, memiliki wawasan luas. Maka tak heran kini di kesehariannya ia berkutat dengan social media seperti Facebook dan Twitter. Bahkan sebelumnya ia juga sudah sering chat di Yahoo Messenger dan mIRC.

“Aku kenal dunia IT sejak 1997, berawal dari penumpang langganan bule Amerika, lupa namanya. Untuk memudahkan komunikasi, bule itu sarankkan kami berkomuniasi via email. Akhirnya dia ajarin aku bikin akun email dan cara menggunakannya. Dari situ aku sering ke warnet dan coba belajar internet lebih banyak,” pengakuan Harry kepada penulis.

Kini Harry banyak memanfaatkan social media untuk mendapatkan pelanggan becaknya. Berangkat dari berteman di dunia maya, atau ada yang baru berinteraksi di dunia maya setelah jadi penumpangnya. Dari merekalah Harry mendapat koneksi ke penumpang lain.

Biasanya penumpang yang puas dengan layanannya, akan merekomendasikan ke teman lain. Maka tak heran jika Harry merasakan manfaat social media ini, yang dirasa mampu membantu dapur terus mengepul.

Harry mengaku bukan satu-satunya supir becak yang memanfaatkan social meda untuk menarik pelanggan, masih banyak supir becak lain, hanya tidak seintens dirinya. Usaha kecil lain seperti salon, rumah makan, juga ikut memanfaatkan social media, namun belum hingga taraf pedagang asongan atau kaki lima.

Selain IT, Harry yang alumni De Britto tahun 1988 ini juga mempelajari bahasa asing seperti Inggris dan Belanda. Ini demi memperbaiki interaksi dengan penumpang dari Negara asing.

Kenapa Belanda? "Orang belanda rasa sosialnya paling tinggi dibanding negara lain, mungkin karena pernah menjajah Indonesia. Nggak heran kalo bule Belanda sering bantu tukang becak yang pernah dikenalnya atau memberi bayaran lebih,” ujar Harry yang menuliskan pengalamannya dalam buku yang akan segera terbit bulan ini.


Meningkatnya kesejahteraan kalangan menengah ke bawah dengan socmed

Kisah Blasius Haryadi sangat inspiratif, karena perjuangan hidupnya yang menyentuh, dan upaya dia untuk bertahan hidup dengan menggunakan socmed. Akhirnya, socmed pula yang menyebabkan Harry dikenal banyak pihak, bahkan sempat masuk televisi dan media.

Mari kita menggunakan social media secara lebih efisien, dan membantu kalangan menengah ke bawah untuk memanfaatkan socmed untuk memperbaiki kesejahteraan. Hal ini bukan sesuatu yang ruwet, karena mengajarkan kaum menengah kebawah untuk lakukan hal ini hanya memerlukan keberanian untuk hilangkan ‘gengsi’ dalam bergaul dengan mereka.

Di tengah krisis multidimensi yang terjadi di negara kita, memberdayakan kelompok menengah kebawah dalam menggunakan socmed adalah ide yang patut dipertimbangkan, karena dengan demikian mereka memperoleh akses terhadap klien potensial mereka, yang dapat saja menggunakan jasa-jasa mereka.

Blasius Haryadi sudah membuktikan kegunaan socmed untuk memperluas usaha dia, sehingga hal ini dapat dibilang bahwa yang bersangkutan sudah memulai wirausaha dengan caranya sendiri.




Arli Aditya ParikesitTentang Penulis: Arli Aditya Parikesit,M.Si adalah Kandidat Doktor bidang Bioinformatika dari Universitas Leipzig, Jerman; Peneliti di Departemen Kimia UI; dan Vice Editor-in-chief Netsains.com. Ia bisa dihubungi melalui akun @arli_ap di twitter.
(wsh/wsh)






Hide Ads