Kendati akses internet diblokir, warga Mesir memang mengupayakan 'jalan tikus' agar tetap bisa mengakses informasi. Selain itu ada juga beberapa perusahaan lokal yang berinisiatif menyediakan akses internet di sana, meski terbatas.
Kekuatan 140 Karakter Twitter
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banyak tembakan pistol di Maadi. Warga asing dan penduduk Mesir telah pergi menjauh dari tempat tinggalnya #Jan28 #Egypt," tulis @bencnn dalam laporannya, seperti dikutip detikINET, Selasa (02/1/2011).
Tak hanya Ben, beberapa Jurnalis dari NPR, CNN, The New York Times, Al-Jazeera English, dan beberapa media internasional lain pun melakukan hal yang sama.
Berita pun Dituturkan Melalui Facebook
Jurnalis seperti Nicholas Kristof dari The New York Times tak hanya melakukan laporan singkat via Twitter. Dalam Facebooknya, ia menuliskan laporan mendalam soal hal-hal yang terjadi di Mesir.
Tantangan menulis di Facebook tentu lebih susah ketimbang laporan tweet 140 karakter. Ia bisa saja diincar kelompok tertentu karena secara blak-blakan menguak realitas sosial di sana, dengan identitas Facebook miliknya.
Live Streaming & YouTube
Setelah lembaga pers ditutup di Kairo, pemeritah Mesir kini memiliki kontrol penuh terhadap media. Kendati demikian, seorang jurnalis televisi tetap harus mengabarkan peristiwa terkini di sana. YouTube pun menjadi solusinya.
Seperti yang dilakukan Jurnalis Al-Jazeera selepas melakukan laporan langsung via Twitter, saat meliput demonstrasi. Karena media televisi diblokir, ia pun mengupload hasil liputannya di YouTube secara update. Hal ini pun terus dilakukan beberapa media penyiaran lain seperti Rusia Today.
Hanya saja saat ini setelah semua penyedia layanan internet utama di Mesir telah menghentikan layanan, upaya para jurnalis untuk memberitakan informasi dipastikan makin berat. Hal ini adalah tantangan tersendiri bagi mereka. (fw/fyk)