Salah satu faktor yang menjadi penyebab maraknya pembajakan adalah faktor ekonomi. Mahalnya software berlisensi dianggap sebagai salah satu pemicu pembajakan. Tapi rupanya alasan itu dianggap tak sepenuhnya benar.
Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Perwakilan Business Software Alliance (BSA) Indonesia, Donny A Sheyoputra saat berbincang dengan detikINET usai kampanye 'Berantas Software Bajakan untuk Indonesia yang Lebih Baik' di Hotel Amarossa, Bandung. Menurutnya, ekonomi bukan faktor utama maraknya pembajakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini sangat disayangkan. Karena dengan maraknya pembajakan, khususnya untuk software, banyak yang dirugikan. Selain produsen pembuat software, negara juga kehilangan pemasukan dari sektor pajaknya.
"Dari software bisnis saja, potential lostnya di tahun ini mencapai US$ 886 juta. Angka ini naik dari tahun sebelummya yang berkisar US$ 544 juta," jelasnya.
Berdasarkan data dari BSA, saat ini Indonesia menempati peringkat ke 12 negara-negara pengguna software bajakan. Di tahun 2009, tingkat penggunaan software bajakan meningkat menjadi 86 persen dari tahun sebelumnya yang berkisar 85 persen.
"Itu data dari IDC, tahun 2009 tingkat pembajakan software 86 persen. Artinya dari 100 software yang diinstal ke komputer, sebanyak 86 di antaranya bajakan. Bajakan di sini bisa berarti memang softwarenya bajakan dari awal atau penggunaan software yang tidak sesuai dengan lisensinya," jelas Donny.
Pun demikian Donny tetap optimistis tingkat pembajakan, khususnya software bisnis yang biasa dipergunakan oleh perusahaan-perusahaan bisa ditekan.
"Memang untuk angka tingkat pembajakan selalu naik turun. Tapi yang jelas kita (Indonesia - red) semakin manjauh dari 10 besar. Kita terus dorong kampanye dan edukasi ke perusahaan-perusahaan untuk menggunakan software berlisensi," tuturnya.
"Ini lebih efektif daripada kita door to door ke end user. Karena dari perusahaan juga pasti akan menekankan kepada karyawannya untuk menggunakan software berlisensi," ia menandaskan.
(afz/ash)