Tujuan pertama, smoking room. Ruangan yang disediakan khusus untuk para perokok. Seperti di banyak area publik lain di Jakarta, smoking room yang ini juga kurang memanusiakan manusia.
Padahal perokok atau bukan, namanya tetap manusia. Seharusnya tetap diperlakukan seperti manusia lain yang bukan perokok. Ruangannya sempit, seadanya, pengap meski tetap dingin ber-AC. Dan nyaris tanpa pemanis interior apa pun. Cuma ada beberapa bangku panjang dari bahan metal, dan asbak-asbak raksasa yang bentuknya seperti kotak sampah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sana, saya bergerak ke toko buku, dan beberapa menit kemudian keluar tanpa membeli satu buku pun. Kemudian saya ingat, saya belum sempat ngopi sebelum berangkat tadi.
Di beberapa titik, ada mesin-mesin penjual kopi. Vending machine seperti yang sering dilihat di film-film. Tinggal cemplungin uang senilai harga kopi yang kita mau, dan keluarlah si minuman ajaib ini. Canggih.
Meski dalam pikiran usil saya, yang sering saya bayangkan sambil cekikikan adalah, di dalam mesin penyedia kopi itu, duduk satu atau dua orang, menunggu pembeli. Begitu seseorang memasukkan sejumlah uang, orang di dalam mesin kopinya buru-buru mengambil gelas styrofoam, menyeduh espresso atau kopi susu pesanan, kemudian mengeluarkannya lewat jendela kecil di dinding depan mesin kopi.
Dua jam kemudian, pesawat yang saya tumpangi mendarat di bandara Ngurah Rai, Denpasar. Pesan seorang kawan: 'di pintu keluar, kamu nengok ke kiri. Nah di situ kamu bisa pesan taksi.' Jadi ke sanalah saya memesan taksi. Sembari mengantre, saya menemukan sesuatu yang terasa janggal: telepon umum koin.
Loh, masih ada ya, telepon umum koin? Masih ada yang pake?
Jaman sekarang, semua sedang berusaha menjadi digital. Beli kopi pun, kita tinggal memasukkan lima atau sepuluh ribu rupiah, dan kita sudah bisa minum kopi dengan tenang.
Yang lebih mengganggu pikiran, saya jadi bertanya-tanya, apakah telepon umum seperti ini masih laku. Bukankah semua orang hari-hari ini sudah punya telepon seluler? Sebagian bahkan punya dua atau tiga.Β
Lantas kalau gak laku, buat apa pesawat telepon yang bentuk dan warnanya menimbulkan rasa kasihan itu masih dipajang di tembok, di sebuah bandara internasional seperti Ngurah Rai?
Sayangnya, taksi yang saya pesan keburu datang sebelum saya sempat mencoba apakah telepon koin itu masih berfungsi. Ada baiknya saya coba nanti di perjalanan pulang, sekadar menuntaskan rasa penasaran.
![]() | Tentang Penulis: Venus adalah seorang blogger dan social media specialist. Ia bisa dihubungi di http://venus-to-mars.com atau melalui akun @venustweets di Twitter. |
