Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kolom Venus
Saya Ceraikan Kamu, di Facebook
Kolom Venus

Saya Ceraikan Kamu, di Facebook


- detikInet

Jakarta - Di deretan kursi tamu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang tunggu sebuah salon, saya menyaksikan ini pada suatu siang. Seorang ibu muda yang berdandan rapi dan wangi, sedang duduk dengan khusyuk. Di kaki ibu yang cantik rapi dan wangi ini, seorang bocah menangis berguling-guling.

Berguling-guling dalam arti sebenarnya, menjerit-jerit menangis sementara si ibu tetap berkonsentrasi pada layar BlackBerry-nya yang cantik. Saya masih ingat: warnanya putih, tampak mahal, gaul, dan tentu saja gaya.

Tamu-tamu salon yang lain, tampak cukup terganggu dengan tangisan --lebih tepatnya jeritan-- si bocah. Beberapa duduk dengan gelisah dan sikap tidak nyaman. Tapi seperti bisa diduga, tidak seorang pun berani menegur si perempuan dengan blackberry warna putih. Tentu saja, saya paham betul, masyarakat kita masih menganggap hal-hal seperti ini adalah semata-mata urusan domestik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski gemas dengan sikap ibu tersebut, sekaligus iba melihat wajah si anak yang basah bersimbah air mata, kami semua memilih untuk diam. Saya katakan kami, karena saya pun hanya bisa merasa geram tanpa melakukan apa-apa. Menegur dengan halus pun tidak.

Kebetulan, saya duduk persis di sebelah perempuan yang saya ceritakan tadi. Sambil bergerak-gerak tak nyaman di kursi, saya sempatkan mencuri lihat apa yang dilakukan ibu itu dengan pesawat telepon pintarnya. Siapa tahu saya salah sangka. Siapa tahu, si ibu yang terlihat penting ini memang sedang mengurus sesuatu yang penting, sampai tangisan anaknya pun luput dari pendengaran.

Oh, pantes. Facebook, toh. Rupanya si ibu cantik sedang sibuk saling berkomentar dengan teman-temannya di status update masing-masing. Kirain lagi ngurus negara, jeng.

Kejadian kecil yang membuat sedih sekaligus jengkel di atas, barangkali bukan satu-satunya. Masih banyak dosa facebook yang lain, yang jujur saja membuat saya dengan ringan mengatakan 'i'm a facebook hater'.

Bukan, jangan salah sangka dulu, saya sangat paham bukan Facebook-nya yang salah. Tapi gegap gempita semua orang yang terlalu memujanya, dan menganggap 'gak gaul kalo gak fesbukan' yang membuat saya mengatakan ini. Saya, tentu saja punya akun di sana. Siapa sih yang tidak? Tapi dengan sadar, saya memilih untuk menjadikannya hanya sarana untuk memperluas networking, sekaligus memperlancar urusan pekerjaan.

Ada satu lagi kejadian lucu. Beberapa bulan yang lalu, seorang mantan tetangga berkirim pesan pendek. "halo, pa kbr? ini mama (nama anaknya) msh inget kan? punya FB gak bu? aku baru bikin. aku add ya biar bisa ngobrol dan kangen-kangenan." Sms itu saya jawab sesopan mungkin, "hai, inget dong, masa lupa? FB ada sih tp cuma buat urusan kantor." Biarlah dianggap aneh. Kalau mau kangen-kangenan, kami toh bisa telepon atau saling berkunjung.

Sebelum lupa, ada satu cerita lagi. Yang ini tak kalah mengenaskan. Seorang kawan lama menelepon sambil marah-marah pada suatu malam. "Jahat banget! Aku juga gak mau terus sama dia, tapi jangan gini dong caranya. Gak lucu. Aku baca statusnya di FB, 'in a relationship with' mantannya jaman SMA, padahal kami belum resmi bercerai." Ah, lengkaplah sudah daftar kejahatan si buku wajah.

Saya bayangkan, jika kita tidak mampu mengerem dan menentukan garis batas tegas antara dunia maya dan nyata, akan begini kejadiannya suatu hari nanti: Saya mencintaimu. Di Facebook. Saya ceraikan kamu. Di Facebook.

VenusTentang Penulis: Venus adalah seorang blogger dan social media specialist. Ia bisa dihubungi di http://venus-to-mars.com atau melalui akun @venustweets di Twitter.
(wsh/wsh)




Hide Ads