Dalam sebuah survei di Australia misalnya, hampir dua per tiga anak-anak di sana dikatakan memiliki pengalaman buruk ketika berselancar di dunia maya.
Laporan itu didapatkan dari pihak penyelenggara survei -- Norton Online Family -- yang mengikutsertakan 7.000 orang dewasa dan 2.800 anak dari 14 negara untuk disurvei.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu bagaimana dengan orangtua? Sayangnya, hanya 46 persen orangtua di Negeri Kangguru itu yang sadar bahwa mereka harus turun tangan mengawasi anak-anaknya. Sementara 25 persen anak-anak mengatakan orangtuanya tak pernah mengawasi mereka ketika sedang mengakses internet.
Masih menurut survei seperti dikutip detikINET dari The West, Kamis (17/6/2010), hanya 6 persen orangtua yang tahu anaknya pernah mengalami kekerasan di dunia maya dan 11 persen lainnya tahu anaknya sudah terpapar dengan konten porno dan kekerasan.
Juru bicara survei, psikolog Andrew Fuller mengatakan bahwa internet adalah portal komunikasi yang menggiurkan untuk anak-anak. Oleh karenanya, orangtua juga harus menetapkan sebuah aturan, menjaga komunikasi dan memonitor anaknya setiap kali mereka mengakses internet.
Ia juga menambahkan, seharusnya anak-anak menyadari buruknya mengakses konten tak pantas itu. "Salah satu masalah besar adalah anak-anak dapat mengunduh foto anak lain dan berbuat macam-macam pada foto itu. Mungkin hanya iseng, tapi bisa saja mereka terancam dengan tuntutan peredaran pornografi anak," ujar Fuller.
Lalu apa solusinya? Menggunakan komputer di ruang keluarga merupakan langakah awal yang bagus. Tapi itu saja tak cukup, perlu aturan pengasuhan alias 'nanny rules' yang ditaati keluarga untuk menjaganya.
(feb/ash)