Selama ini komunitas TI di Bandung merasa bergerilya sendiri. Dukungan dari Pemerintah Kota Bandung yang seharusnya dapat mengambil peranan sangat minim. Padahal potensi dari sektor ini tidak bisa dianggap remeh. Banyak software developer ataupun game house dari Bandung yang memiliki produk yang tak kalah bersaing dengan buatan luar.
Ditanya tentang kendala itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Pemkot Bandung, Bulgan Alamin justru mengaku selama ini menunggu inisiatif dari komunitas TI untuk bisa bersinergi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diakui oleh Bulgan, pihaknya memang tidak bisa bergerak sendiri dalam hal ini. Karena mengingat fungsi dari Pemkot yang hanya bisa mengatur regulasi, memfasilitasi serta melayani masyarakat. Perlu dukungan dari industri untuk mewujudkan cita-cita menjadikan Bandung sebagai barometer TI di Indonesia.
"Tak hanya dari kita, sokongan dari pelaku indsutri juga sangat dibutuhkan. Komunitas, Pemkot dan industri perlu bersinergi. Bandung memiliki sumber daya manusia yang luar biasa. Kampus-kampus berbasis TI juga banyak di sini. Ditambah prestasi mereka (kampus) baik di tingkat nasional ataupun internasional juga tidak diragukan lagi," jelasnya.
Di tempat yang berbeda, Ferie Budiansyah, Director Tunas Indonesia Kreatif--salah satu komunitas TI di Bandung--mengatakan bahwa kebutuhan komunitas TI saat ini adalah dukungan dari Pemkot Bandung untuk memfasilitasi mereka.
"Kalau yang dilakukan Pemkot kan hanya fasilitator dan regulator. Yang dibutuhkan itu wadah untuk apresiasikan produk yang dihasilkan oleh komunitas-komunitas ini. Pemkot harus ikut turun tangan dalam memasarkan produk-produk komunitas ini. Misalnya, dengan menyediakan showroom untuk memamerkan produknya," kata Ferie.
Tak hanya itu, salah satu peranan penting Pemkot adalah menjembatani komunitas tersebut dengan lembaga-lembaga finansial. Hal ini diperlukan untuk memberikan kemudahan bagi komunitas dalam mendapatkan kredit usaha.
"Kemudahan fasilitas kredit juga perlu. Sekarang kita lihat komunitas TI kebanyakan dari garasi. Untuk minta kredit pasti ada colateral. Dan apa yang mereka punya. Aset tidak ada. Harapannya Pemkot bisa memberikan kemudahan akses dalam permodalan," ungkap pria yang saat ini tengah membina beberapa UKM berbasis TI di Bandung.
Β
(afz/rou)