Beberapa pihak menilai, hukuman tersebut terlalu kejam. Akan tetapi Mark Byrne selaku Chief Executive dari lembaga Disability, Child, Youth and Family Services menyatakan bahwa hukuman pemecatan itu memang seharusnya dilakukan.
"Akses pornografi selama jam kerja tidak dapat diterima dan tidak seharusnya terjadi di tempat kerja," ucap Byrne.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mencegah kejadian serupa, saat ini software penyaring konten cabul telahΒ dipasang di komputer kantor Youth Detention Center. Diakui bahwa filter tersebut masih bisa diakali, namun diharapkan setidaknya dapat meminimalisir akses ponografi.
Selain itu, dikutip detikINET dari Examiner, Rabu (14/10/2009), perekrutan pegawai perlu dilakukan dengan lebih selektif. Mereka yang kecanduan porno tidak seharusnya dipekerjakan.
"Ini untuk memastikan agar orang-orang yang tidak tepat jangan sampai masuk ke sana," pungkas Byrne. (fyk/faw)