Ibu bernama samaran Elizabeth ini mengklaim, pramugara itu memanfaatkan data pribadi putrinya yang tercatat di maskapai sehingga ia bisa menghubungi anaknya melalui situs jejaring sosial tersebut. Perbuatan itu dinilai melecehkan privasi penumpang yang seharusnya dilindungi dengan baik.
Dikutip detikINET dari ABCNews, Kamis (8/1/0/2009), pihak Jetstar pun menyatakan permintaan maaf dan sedang mengivestigasi masalah ini dengan menanyai si pramugara. Hasil investigasi akan diumumkan dalam waktu 3 minggu mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Elizabeth menganggap hal ini masalah serius dan bisa saja menimpa banyak anak gadis lainnya di Australia. "Pramugara itu mengganggu privasi dengan mengakses data penumpang, khususnya anakku yang masih di bawah umur," tukasnya.
"Aku senang putriku memblokir permintaan pertemanannya. Namun aku cemas jika ada gadis lain yang tergoda," tambah Elizabeth yang khawatir akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan jika ada gadis termakan rayuannya.
Bahkan Elizabeth menyatakan, meski sudah ditolak, sang pramugara tetap berusaha menarik hati putrinya. Dia mengirimi berbagai pesan yang bernada merayu. Ini yang membuatnya merasa khawatir sebagai seorang ibu mengingat menjamurnya kasus pelecehan seksual yang terjadi sesudah perkenalan via internet. (fyk/faw)