Namun jika mengacu pada hasil studi yang dirilis Proceedings of the National Academy of Sciences, kalangan multitasker ternyata dinilai punya poin minus dalam hal pekerjaan yang mereka tangani. Mengapa?
Lewat serangkaian tes dan penelitian pada 100 mahasiswa Stanford di AS, disimpulkan bahwa seorang multitasker tingkat kronis lebih sulit memfokuskan dirinya. Ia tak mampu menangkis atau mengabaikan datangnya informasi yang tidak relevan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui tes-tes seperti pengulangan huruf dan mengkategorikan kata yang telah diacak, tak hanya terungkap bahwa mereka susah memfokuskan diri, tapi mereka juga buruk dalam hal mengorganisasi informasi dan juga parah dalam urusan kecepatan berpindah pekerjaan.
Hasil yang buruk ini terpaut jauh dari peserta tes yang dalam kehidupannya hanya menghabiskan sedikit waktu untuk membaca email, browsing dan menelepon tidak secara bersamaan.
Para ahli pun dibuat terkejut dengan penemuan ini. Namun di luar dampak-dampak buruk seorang multitasker, masih ada nilai positif dari mereka. Yakni, jika ada sesuatu atau kejadian baru, mereka menjadi yang paling pertama menyadari hal itu.
(sha/rou)