Jumat, 08 Mei 2009 16:49 WIB

SDM IT Lari ke Luar Negeri, Pemerintah Diminta Waspada

- detikInet
Bandung - Bukan rahasia lagi kalau tenaga IT di Indonesia tak kalah dengan tenaga IT luar negeri. Bahkan tak jarang, perusahaan-perusahaan IT besar dunia, SDM IT-nya berasal dari Indonesia. Selain membanggakan, hal ini juga ironis. Terlebih, kebutuhan tenaga IT di dalam negeri masih belum tercukupi.

Menurut Kepala Lembaga Riset Telematika Sharing Vision Dimitri Mahayana, kondisi ini jika dibiarkan bakal mengancam keberlangsungan bangsa ini. Sebab, kebutuhan SDM IT bukan saja untuk perusahaan, tapi juga untuk memperkuat lembaga pemerintah.

"Perusahaan dan institusi pemerintahan harus waspada. Seperti saat ini yang sedang berupaya untuk mengimplementasikan IT dalam kegiatan pemerintahan seperti
e-Gov dan lain sebagainya," jelasnya kepada detikINET, di sela sesi Sharing Vision 'IT Human Resources Trend & Considerations' di Hotel Aston Tropicana, Bandung, Jumat (6/5/2009) siang.

Dimitri juga menambahkan, saat ini profesi IT sangat dibutuhkan. Hal tersebut menyebabkan permintaan akan tenaga IT sangat tinggi ketimbang supply-nya.

"Luar biasa. Sebagai salah satu profesi, ini sangat menjanjikan. Kesempatannya sangat banyak. Ada gap antara demand dan supply dan itu bukan hanya di
Indonesia. Dengan internet bisa mudah mendapatkan macam-macam proyek multinasional," tutur pria yang juga dosen di ITB ini.

Yang menarik, imbuhnya, masalah pendapatan bukan menjadi alasan utama tenaga IT Indonesia hijrah ke luar negeri. Justru alasan keterbatasan kesempatan
pengembangan diri dan masalah dengan manajemen dan pengakuan dari perusahaan lah yang menjadi pendorong utama.

"Berdasarkan survei, justru alasan kompensasi gaji dan tunjungan tidak menjadi alasan yang utama. Tapi alangkah baiknya jika memang ada keuntungan, perusahaan juga harus membaginya," ungkapnya.

Berdasarkan data Sharing Vision, gaji tenaga IT di Indonesia setengahnya dari Malaysia dan jauh tertinggal dari Singapura.

"Gaji ini tergantung posisi, di Indonesia antara Rp 50-160 juta setahun. Malaysia sudah Rp 165-360 juta. Dan Singapura 5-8 kali lipat dari gaji di Indonesia. Saya pikir sudah seharusnya di Indonesia diarahkan naik sekitar 1,5 kali lipat dari sekarang,"  pungkasnya.


(afz/ash)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed