Optimisme tersebut disampaikan Direktur PT Bamboomedia Cipta Persada Putu Sudiarta, pada sosialisasi Kampanye Nasional HKI Anti Penggunaan Software Ilegal oleh Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual (Tim Nas PPHKI) di hotel Shantika, jalan Kartika Plaza, Kuta, Jumat (13/3/2009).
Sejak 1 Februari hingga 30 Juni tahun ini, Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual (PPHKI) melakukan kegiatan Kampanye Nasional HKI Antipenggunaan Software Ilegal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sudiarta menambahkan potensi usaha pengembang software lokal masih terbuka lebar. Sebab kondisi supply and demand di pasar software Indonesia masih tidak seimbang. Yang terjadi adalah pengembang software lokal masih belum mampu memenuhi jumlah permintaan (demand) yang besar di masyarakat.
Penjualan produk software Bamboomedia mencapai 100 - 200 ribu unit pada 2008. Saat ini perusahaan yang berdomisili di Bali itu telah mempunyai sekitar 20 produk software yang dijual dengan harga rata-rata kurang dari Rp 100 ribu.
Pada tahun ini, Bamboomedia pun bakal mengembangkan produk-produk baru sejumlah 35 produk. Sebagian besar untuk produk-produk kategori e-learning, selain produk kategori e-business.
Hanya saja, Sudiarta menyesalkan maraknya pembajakan yang merupakan musuh nomor satu bagi pengembang software ini.Β Pembajakan membuat biaya pengembangan (investasi) satu produk software yang mencapai Rp 50 juta menjadi tidak ekonomis.Β Akibatnya, banyak pengembang lokal yang tidak berhasil melewati usia 5 tahun alias bangkrut.
Kunci Bamboomedia bisa bertahan hingga mencapai usia 7 tahun antara lain efisiensi usaha dengan membuat sistem kerja yang praktis serta dukungan pemerintah dalam kampanye anti pembajakan.
Bamboomedia juga selalu melakukan inovasi produk untuk melindungi dari pembajakan.Β Misalnya, inovasi aktivasi produk software lewat pesan singkat (SMS). "Teknologi SMS cukup mampu menekan tingkat pembajakan terhadap produk BamboomediaΒ dan cukup aman," pungkasnya. (gds/ash)