Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Robotika, Perjuangan Melawan Rasa Bosan

Robotika, Perjuangan Melawan Rasa Bosan


- detikInet

Bandung - Dua mahasiswa itu terus mengutak-atik robot, tak peduli dengan lalu lalang orang di sekitarnya. Satu orang sibuk di depan komputer dan seorang lagi sibuk meletakan robot itu ke lantai. Keduanya berusaha membuat robot tersebut berputar 90 derajat.

Melihat mereka berdua saja sudah bosan apalagi melakukannya. Robotika bukan hanya sekedar merancang dan memprogram robot agar bisa berjalan sempurna. Tapi yang paling utama adalah perjuangan melawan rasa bosan.

Seperti yang dikatakan oleh Kepala Divisi Robotika Unikom Bandung Yusrila Yeka Kerlooza saat ditemui detikINET di laboratorium Robotika Unikom.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Robotika sebenarnya berjuang melawan rasa bosan. Contoh paling gampang, untuk membuat robot bisa berputar 90 derajat saja bisa berpuluh-puluh kali mencoba. Nah jika tidak dapat melawan rasa bosan pasti akan ditinggalkan," katanya.

Menurut Yusrila, merancang robot tidak cukup sampai robot itu bisa bergerak. Tetapi, bagaimana gerakan robot tersebut bisa dipertahankan dan kuat. Mulai dari merancang algoritma, mencari bahan, merangkainya sampai robot itu bisa bergerak. "Ini yang menimbulkan rasa bosan," katanya.

Bagi tim robotika Unikom, rasa bosan sudah tidak ada lagi dalam kamus mereka. Tiap hari mereka bergelut dengan robot.

"Jika tidak diusir, mereka pasti akan terus di sini (laboratorium - red). Pokoknya dari Sabtu siang hingga Minggu malam saya suruh mereka libur. Tidak menyentuh robot sama sekali," kata dosen berambut gondrong ini menjelaskan.

Walaupun jumlah peminatnya banyak, namun saat ini ada 14 orang anggota tim robotika Unikom. Hal ini karena divisi ini menerapkan sistem rekrutmen anggota baru yang ketat. Hasilnya tidak banyak, maksimal hanya 5 orang tiap kali rekrut.

"Kita bikin sistem rekrutmen. Tidak sembarang orang bisa masuk ke tim. Karena sejak tahun ini anggota tim akan mendapatkan uang saku tiap bulannya dari kampus," papar pria yang sering menginap di laboratorium.

Menurut Yusrila dengan sedikit orang, hasilnya bisa optimal. "Untuk bikin satu tim yang solid tidak mudah. Perlu waktu dan biaya yang tak sedikit. Persis seperti membuat keluarga. Harus bisa tahu karakter masing-masing orangnya. Dan itu biasaya butuh waktu sampai 6 bulan," pungkasnya. (afz/wsh)





Hide Ads