Begitulah pengalaman Welry Lesmana, Direktur Robotic Explorer, salah satu perusahaan penyedia robot edukasi ketika berjuang memperkenalkan salah satu kemajuan teknologi ini ke sekolah-sekolah di Indonesia.
Diceritakannya, pertama kali ia membuka perusahaan sekaligus lembaga pendidikan robotnya ini pada tahun 2005. Kala itu, gaung robot masih belum terdengar di tanah air. Alhasil, kehadirannya merupakan sesuatu yang baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, Welry tak patah arang, hingga akhirnya pandangan keliru sekolah tersebut akhirnya berubah. "Dari situ (penolakan-red) kita belajar dan membuat kurikulumnya, dan mulai pertengahan 2006 kondisinya mulai berubah, penerimaan sekolah jauh lebih baik," jelasnya.
Robotic Explorer kini telah menjalin kerja sama dengan 22 sekolah. Welry pun optimisis untuk menjalankan roda bisnisnya dengan membawa mesin-mesin bergerak ini ke sekolah-sekolah.
(ash/fyk)