Wadah yang dimaksud yaitu dalam bentuk pembentukan perkumpulan Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI).
Lolly Amalia Abdullah, Direktur Infomasi, Perangkat Lunak, dan Konten Depkominfo mengatakan, gagasan untuk membuat MIKTI sebenarnya sudah disuarakan sejak tahun lalu, namun karena sejumlah rintangan menghadang akhirnya rencana tersebut baru kembali terealisasi sekarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebagai tindak lanjut akan dilakukan pertemuan lagi dengan para peserta yang hadir dalam forum diskusi ini, host-nya akan bergilir antara Telkom, Indosat dan Kadin," ujar Lolly kepada detikINET.
MIKTI dibentuk salah satunya adalah untuk mensinergikan para pihak terkait yang bermain di industri kreatif berbasis TIK. Pasalnya, menurut Brata Hardjosubroto dari Asosiasi Penyelenggara Multimedia Indonesia (APMI), banyak masalah yang merundung industri kreatif tanah air.
Seperti antar para penyedia konten (CP) yang tidak bersinergi, hubungan operator telekomunikasi dan CP yang penuh contention hingga minimnya institusi pendidikan yang menyokong industri kreatif TIK ini. "Sekolah animasi di Indonesia saja cuma ada 3, bandingkan dengan Korea yang memiliki 300 sekolah," tukas Brata ketika memberikan presentasinya dalam Forum Diskusi Pembentukan MIKTI di Redtop Hotel Jakarta, Rabu (15/10/2008).
Imbasnya, lanjut Brata, kontribusi industri kreatif terhadap pendapatan negara masih kalah jauh dari negara-negara lain, yakni cuma 4,7 persen. Amerika Serikat menjadi negara yang memiliki industri kreatif terbesar di dunia. Β
Punya info seputar perkumupulan, blog atau komunitas online Anda? Sampaikan saja di detikINET Forum.
(ash/fyk)