Ukuran smartphone masa kini makin tipis, namun anehnya kapasitas baterainya justru makin membengkak. Kunci dari keajaiban teknologi ini ternyata terletak pada penggunaan jenis baterai baru bernama silikon-karbon (silicon-carbon).
Teknologi ini memungkinkan pabrikan untuk memasukkan kapasitas daya yang jauh lebih besar ke dalam ukuran sel baterai yang sama. Contoh nyatanya bisa dilihat pada ponsel Honor Power yang mengusung baterai 8.000 mAh, atau ponsel lipat super tipis Oppo Find N5 yang sanggup menampung baterai 5.600 mAh.
Selain Honor dan Oppo, pabrikan asal China lainnya seperti Huawei, Xiaomi, Vivo, dan OnePlus juga berlomba-lomba mengadopsi baterai silikon-karbon. Namun, ada pemandangan yang janggal: tiga raksasa penguasa pasar, yakni Apple, Samsung, dan Google, sama sekali belum menyentuh teknologi ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut adalah penjelasan mengenai cara kerja baterai silikon-karbon dan alasan mengapa raksasa teknologi asal AS dan Korea Selatan itu masih enggan menggunakannya.
Apa Itu Baterai Silikon-Karbon?
Secara teknis, teknologi ini tidak menggantikan baterai lithium-ion tradisional, melainkan hanya mengubah salah satu komponen utamanya, yakni anoda.
Pada baterai modern standar, katoda menggunakan bahan berbasis litium, sedangkan anodanya menggunakan grafit. Nah, pada baterai silikon-karbon, material anoda murni tersebut diganti dengan racikan campuran antara silikon dan grafit.
Alasannya sederhana: silikon memiliki kepadatan energi hampir 10 kali lipat dibandingkan grafit. Dengan menambahkan sedikit komponen silikon (biasanya sekitar 5 hingga 15 persen), pabrikan bisa mendongkrak kapasitas baterai secara drastis tanpa perlu memperbesar ukuran fisik perangkat.
Alasan Apple, Samsung, dan Google Menahan Diri
Meski menawarkan kapasitas yang sangat menggiurkan, ada beberapa rintangan besar yang membuat perusahaan seperti Apple dan Samsung memilih bersikap wait and see:
- Risiko Degradasi Baterai: Saat menyerap ion litium dalam proses pengecasan, silikon akan memuai jauh lebih besar dibandingkan grafit. Pemuaian dan penyusutan ekstrem yang terjadi berulang kali ini pada akhirnya akan merusak struktur baterai lebih cepat. Hal ini sangat bertentangan dengan komitmen Apple dan Google yang selalu menjanjikan dukungan perangkat jangka panjang. Apalagi, regulasi Uni Eropa kini mewajibkan baterai ponsel harus bisa mempertahankan 80 persen kapasitas kesehatannya setelah melewati 800 siklus pengisian daya.
- Tersandung Aturan Logistik: Baterai dengan kapasitas di atas 20Wh (sekitar 5.400 mAh) masuk dalam kategori "barang berbahaya" (dangerous goods) dalam aturan pengiriman internasional. Imbasnya, biaya logistik udara akan melonjak tajam. Hal ini memaksa pabrikan membuat standar ganda di berbagai wilayah. Contohnya adalah Nothing Phone 3 yang dibekali baterai 5.500 mAh di India, namun kapasitasnya dipangkas menjadi 5.150 mAh di pasar Eropa demi menyiasati biaya pengiriman.
- Trauma Keamanan: Khusus bagi Samsung, kehati-hatian adalah prioritas mutlak. Bayang-bayang kelam insiden ledakan baterai Galaxy Note 7 pada beberapa tahun silam mungkin membuat perusahaan asal Korea Selatan ini tidak mau mengambil risiko terburu-buru mengadopsi teknologi baterai baru sebelum benar-benar teruji keandalannya.
Ke depannya, persentase penggunaan silikon pada ponsel China diprediksi akan terus ditingkatkan untuk menembus batas maksimal. Oppo kabarnya akan membekali Find X9 Pro dengan baterai 7.500 mAh, sementara rumor menyebutkan bahwa perangkat Honor Power 2 akan menembus batas gila di angka 10.000 mAh.
Bagi para pengguna Apple, Samsung, maupun Google, tampaknya Anda masih harus bersabar, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Rabu (29/4/2026). Ketiga perusahaan raksasa ini diyakini sedang menunggu para ilmuwan material untuk menyempurnakan teknologi silikon agar efek samping pemuaiannya bisa benar-benar ditekan.
(asj/asj)

