Infinix Hot 60 Pro+ hadir dengan pendekatan yang cukup berbeda di kelas harga Rp 2 jutaan. Bukan sekadar menawarkan spesifikasi standar, ponsel ini mencoba menonjol lewat desain super tipis, fitur AI, hingga pengalaman penggunaan harian yang cukup komplet.
Sejak pertama digenggam, daya tarik utamanya langsung terasa. Bodinya sangat tipis, hanya 5,95 mm, dengan bobot 155 gram. Ini membuatnya terasa ringan dan agak asing bagi pengguna yang terbiasa dengan ponsel lebih tebal. Materialnya pun bukan plastik biasa, melainkan aluminium dengan klaim setara standar aerospace, memberikan kesan kokoh sekaligus premium.
Desainnya juga tidak monoton. Varian warna seperti Titanium Silver tampil minimalis namun tetap nyaman dilihat. Finishing-nya tidak mudah meninggalkan sidik jari, dan Infinix bahkan menyertakan casing tipis yang tetap mempertahankan estetika perangkat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masuk ke bagian depan, layar AMOLED 6,78 inci jadi nilai jual berikutnya. Resolusinya tinggi di kelasnya, dan refresh rate hingga 144Hz terdengar menggiurkan. Namun dalam praktiknya, 144Hz ini terbatas hanya untuk beberapa aplikasi seperti Settings dan Phone. Meski begitu, adanya pengaturan refresh rate per aplikasi tetap memberi fleksibilitas, terutama untuk gaming atau penggunaan tertentu. Kekurangannya, layar ini belum mendukung HDR.
Di sektor software, XOS 15 berbasis Android 15 masih punya catatan, terutama soal bloatware dan performa multitasking yang kadang kurang mulus. Tapi ini ditebus dengan dua keunggulan penting: dukungan update panjang (3 kali OS dan 5 tahun security patch), serta fitur AI yang lengkap.
Fitur AI-nya terbilang menarik di kelas harga ini. Ada integrasi Gemini dan Circle to Search, plus Folax sebagai asisten berbasis DeepSeek. Selain itu, Infinix AI juga bisa menerjemahkan, merangkum, hingga mengolah teks dalam Bahasa Indonesia. Bahkan ada fitur kreatif seperti Sketch to Image dan editing foto berbasis AI.
Untuk performa, Infinix Hot 60 Pro+ menggunakan MediaTek Helio G200 yang secara praktis masih satu level dengan Helio G99. Skornya di AnTuTu sekitar 500an ribu poin, cukup standar untuk kelasnya. Bukan untuk gaming berat, tapi masih nyaman untuk penggunaan harian dan game kasual.
Yang menarik, manajemen suhunya tergolong baik. Dalam pengujian berat, suhu tetap stabil di kisaran 36-39 derajat Celsius. Ini jadi nilai tambah, apalagi mengingat bodinya yang tipis.
Daya tahan baterainya juga solid. Dengan kapasitas 5.160 mAh, ponsel ini mampu bertahan lebih dari 13 jam dalam pengujian. Pengisian dayanya 45W, dengan waktu sekitar 65-70 menit hingga penuh. Ada juga fitur bypass charging yang berguna untuk menjaga suhu saat bermain game sambil mengisi daya.
Di sektor kamera, meski terlihat punya tiga modul, sebenarnya hanya satu kamera utama 50 MP yang benar-benar digunakan. Sensor Sony IMX822 yang dipakai mampu menghasilkan foto dengan warna yang punchy namun tetap natural. Detail dan dynamic range juga cukup baik, terutama di kondisi cahaya ideal.
Saat kondisi mulai gelap, performanya masih bisa diandalkan, meski tanpa OIS membuat hasil foto rawan blur jika tangan tidak stabil. Zoom digital juga jadi batas utama, dengan detail yang cepat menurun saat diperbesar.
Kamera depan 13 MP juga cukup memadai untuk selfie. Hasilnya natural dengan dynamic range yang cukup baik, meski di kondisi minim cahaya mulai muncul noise.
Secara keseluruhan, Infinix Hot 60 Pro+ menawarkan paket yang menarik di kelasnya. Desain tipis dan premium, layar AMOLED, fitur AI lengkap, serta baterai awet jadi kombinasi yang sulit diabaikan. Memang ada kompromi di performa dan beberapa fitur layar, tapi untuk harga Rp2 jutaan, ponsel ini tetap terasa sangat kompetitif.
(asj/asj)

