Polytron untuk pertama kalinya mulai jualan laptop di Indonesia pada tahun 2025, dan beberapa bulan setelahnya langsung dihantam krisis memori global. Akibatnya, rencana Polytron meluncurkan laptop baru pada tahun 2026 terpaksa diundur.
Commercial Director Polytron Tekno Wibowo mengatakan Polytron masih sulit mengamankan pasokan memori karena masih merupakan pemain baru di bisnis laptop. Situasi ini diperparah dengan krisis memori yang diprediksi berlanjut hingga akhir tahun 2026.
"Masalah chip, mungkin akan menunda lah. Tapi kita tetap kejar ya, karena kita kan masih negosiasi ya, masalah supply-nya dan segalanya," kata Tekno saat ditemui seusai Polytron Media Luncheon 2026 di Jakarta, Selasa (20/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Cuman waktunya mungkin kita harus plan agak mundur sedikit mungkin ya. Karena kalau tadinya sebenarnya di quarter pertama kita sudah launch produk baru sih. Cuma karena kita nggak bisa dapat supply memorinya, terpaksa kita (undur)," sambungnya.
Commercial Director Polytron Tekno Wibowo Foto: Virgina Maulita Putri/detikINET |
Tidak hanya penundaan peluncuran, Tekno mengatakan harga laptop Polytron akan mengalami penyesuaian dan naik sekitar 5-10%. Menurutnya kenaikan ini akan memiliki pengaruh sedikit terhadap penjualan tahun ini.
Tekno tidak mengungkap angka penjualan laptop Polytron di tahun pertamanya. Namun ia yakin walau diterpa krisis memori, bisnis laptop akan menjadi salah satu tulang punggung brand Polytron ke depannya.
"Laptop kita sebetulnya sudah targetkan untuk bisa menjadi paling nggak 3 kali lipat dari tahun 2025. Tapi ya balik lagi, kita nanti tergantung pada supply-nya," jelas Tekno.
Krisis memori tidak hanya mempengaruhi bisnis laptop Polytron, tapi juga bisnis home appliances yang menjadi andalannya. Head of Group Product Home Appliances Albert Fleming mengatakan efek ini dirasakan ke produk home appliances dengan Internet of Things (IoT), tapi persentasenya mungkin tidak terlalu besar.
"Karena secara percentage itu kecil ya, IoT itu masih di bawah 2% saya kira. Dan banyak orang yang nggak pakai IoT di home appliances, seperti kulkas bisa di-scan, buat dikontrol remote jarak jauh buat apa?" ujar Albert dalam kesempatan yang sama.
"Contohnya dari IoT sendiri, kita pernah survei dari sekian puluh ribu unit aircon IoT yang kita jual yang konek ke server kita paling hanya 60-70%. Artinya 30% itu masih menggunakan sebagai air conditioner biasa," pungkasya.
(vmp/vmp)
