Ini Penyebab Keruntuhan BlackBerry Menurut Bosnya

Ini Penyebab Keruntuhan BlackBerry Menurut Bosnya

Fino Yurio Kristo - detikInet
Rabu, 25 Mei 2022 13:50 WIB
Seorang model menunjukkan Blackberry Classic saat peluncuran di Jakarta, Rabu (25/3/2015). Blackberry ini menggunakan jaringan 4G LTE dijual dengan harga Rp 5.599.000.
Penyebab Keruntuhan BlackBerry Menurut Petingginya. Foto: Agung PambudhyI
Jakarta -

Dahulu, BlackBerry adalah ponsel idaman banyak orang. Akan tetapi seakan tiba-tiba, mereka runtuh dan saat ini praktis telah menghilang. Nah, dari beberapa alasan keruntuhan BlackBerry, dari mana asal mula mereka kelimpungan?

Kejayaan BlackBerry di dunia smartphone memudar cepat semenjak kedatangan iPhone dan kemudian Android. Mantan bos BlackBerry pun pernah mengakui kalau pihaknya kalah bersaing dengan iPhone dan akhirnya tumbang.

Adalah Jim Balsillie yang pernah membuat pengakuan tersebut. Dulu, dia adalah co-CEO BlackBerry yang masih bernama Research in Motion (RIM) bersama Mike Lazaridis. Ia meninggalkan BlackBerry di tahun 2012.

Jim mengakui awal kegagalan adalah peluncuran BlackBerry Storm yang tak diterima pasar sehingga banyak pembelinya retur. "Konsumen mengembalikannya 100%," kata Jim yang dikutip detikINET dari CTV.

Awal 2000-an, BlackBerry mengubah cara orang berkomunikasi dan berbisnis dengan layanan email dan BBM yang aman dan nyaman. Tapi pada tahun 2007, kedatangan iPhone membuat orang perlahan beralih dari BlackBerry. BlackBerry coba mengantisipasi dengan Storm tapi gagal.

"Dengan Storm, kami mencoba terlalu banyak. Layarnya sentuh, aplikasinya baru dan diciptakan dalam periode yang sangat singkat dan ponsel ini malah menghantam kami. Itulah saat di mana aku tahu kami tak bisa berkompetisi di hardware high end," papar Jim.

Untuk pertama kali setelah sukses luar biasa di hampir semua ponselnya, RIM punya produk BlackBerry gagal. Banyak pihak mulai bertanya-tanya apakah BlackBerry mampu bersaing dengan iPhone. "Semua orang kecewa karena kegagalan Storm. Semangat di perusahaan jadi turun," kata COO RIM, Don Morisson.

Tapi Lazaridis bersikeras kalau Storm bukanlah kegagalan. Baginya, BlackBerry Storm adalah percobaan pertama RIM menggunakan teknologi baru. Ia mengambil sisi positif Storm seperti kameranya lumayan, speaker bagus dan baterai bisa diganti.

Kala itu, BlackBerry masih sehat karena ponselnya laku di negara berkembang, termasuk Indonesia. Tapi di AS khususnya, popularitas makin turun. Antara lain karena operator AT&T mendukung penuh iPhone dengan bandwidht unlimited.

BlackBerry lambat beradaptasi. "Waktu itu keadaannya sungguh sulit, perusahaan ini kaget menghadapinya, " kata Balsillie.

Ia sempat mengemukakan ide agar layanan BlackBerry Messenger dibuka saja untuk platform lainnya agar keuangan perusahaan bertambah. Tapi dalam masa kepemimpinannya, BBM tetap tertutup. Barulah di masa CEO Thorsten Heins, BBM menyambangi iOS dan Android.

Namun semuanya sudah terlambat hingga akhirnya bisnis ponsel BlackBerry tidak dapat diselamatkan. Bahkan layanan andalannya BBM pun sudah beberapa lama telah dimatikan.

[Gambas:Youtube]



(fyk/fay)