Program Laptop Dkk Rp 10 Juta Per Unit, Cukup untuk Digitalisasi Sekolah?

Updated

Program Laptop Dkk Rp 10 Juta Per Unit, Cukup untuk Digitalisasi Sekolah?

Adi Fida Rahman - detikInet
Selasa, 27 Jul 2021 09:20 WIB
Axioo Chromebook dan Notebook
Foto: Dok. Axioo
Jakarta -

Pemerintah menganggarkan Rp 2,4 triliun untuk membeli laptop produk dalam negeri dan berbagai aksesorisnya yang akan dibagikan ke sekolah-sekolah sepanjang 2021. Artinya satu unit laptop dan perangkat lainnya yang dibagikan akan seharga Rp 10 juta, cukupkah untuk digitalisasi sekolah?

Pengamat gadget Lucky Sebastian menilai paket laptop termasuk aksesoris dengan harga Rp 10 juta punya spesifikasi yang bagus. Perkiraannya sudah menggunakan prosesor Intel Core i5 generasi terbaru, RAM yang cukup dan tersemat memori internal SSD.

"Semoga jajaran Laptop Merah Putih tidak menggunakan hardware yang sudah ditinggalkan, misalnya HDD. Kalau bisa pake port baru, seperti USB Type C dan HDMI. Tampilannya terlihat bagus," kata Lucky saat dihubungi detikINET, Selasa (27/7/2021).

Hanya saja, Lucky menganjurkan pemerintah melakukan riset lagi terkait jenis laptop yang diberikan pada sekolah-sekolah. Menurutnya laptop dan perangkatnya seharga total Rp 10 juta rasanya terlalu tinggi spesifikasinya jika digunakan untuk anak Sekolah Dasar (SD) yang kebutuhannya tidak sekompleks siswa SMA.

"Kelas Rp 10 juta itu kita sudah dapat laptop gaming, spesifikasinya nggak main-main. Kalau bisa diperkecil untuk diperbanyak, mestinya risetnya ditambah. Jadi butuhnya apa, hardware yang dipakai apa," terang pria asal Bandung ini.

Untuk anak SD disarankan Lucky menggunakan laptop Chromebook. Ini berkaca di Amerika Serikat di mana sekolah-sekolah menggunakan laptop tersebut yang harganya kisaran Rp 2-3 juta. Kemampuan Chromebook sudah mencukupi untuk berselancar di internet, mengakses aplikasi sekolah online, dan bisa menginstal aplikasi Android.

"Jadi kalau memang Rp 10 juta targetnya bisa dipecah untuk dibuat lebih banyak sehingga menjangkau yang lain-lain. Karena murid di Indonesia banyak banget kan," jelas Lucky.

Axioo ChromebookChromebook buatan Axioo Foto: Dok. Axioo

Chipset Buatan Lokal

Lucky menyarankan untuk vendor dalam negeri berkaca pada laptop China. Tidak perlu dari awal membangun R&D, karena membangun pusat riset dan pengembangan butuh biasa besar.

Menurutnya tidak masalah meniru teknologi yang sudah ada, asalkan tidak hal-hal detail sehingga melanggar paten. Barulah setelah memiliki pengalaman dan skill yang maju untuk merakit yang lebih baik.

"Untuk pertama-tama agar lebih cepat tersedia musti seperti brand china. Tiru saja, kenapa laptop bisa tipis, bagaimana penempatannya," ujar Lucky.

"Kalau mau merakit sendiri tidak masalah, tapi memang membutuhkan riset dan pengembangan yang berimbas pada ongkos produksi sehingga akan lebih berat. Kalau tidak terkena paten, tiru saja mana yang bagus yang orang-orang suka," sambungnya.

Terkait wacana pemerintah untuk mentenagai Laptop Merah Putih dengan chipset buatan dalam negeri, dinilai Lucky agak memberatkan. Untuk membuat chipset bukan perkara gampang, bahkan negara maju sekalipun tidak punya pabrik chipset. karena tidak hanya mahal investasinya, perlu tahunan untuk baru bisa digelar.

Karena itu pula para vendor laptop global sekalipun tidak memproduksi chipsetnya sendiri. Mereka lebih memilih menggunakan prosesor dari pabrikan Intel atau AMD.

"Ini sepertinya tidak mungkin, mengingat dana yang disiapkan pemerintah Rp 17 triliun. Karena rencana Intel membeli produsen semikonduktor GlobalFoundries Inc saja Rp 432,7 triliun. Sepertinya tidak memungkinkan kalau sekarang, jadi baiknya kita merakit toh brand-brand global pun sama jeroannya, bedanya cuma bagaimana mereka meracik tipe layar, jumlah RAM dan lainnya," terang Lucky.

Zyrex ChromebookZyrex Chromebook Foto: Dok. Zyrex

Kolaborasi

Saat membesut Laptop Merah Putih, Lucky menganjurkan untuk vendor dalam negeri bekerja sama dengan perusahaan aplikasi baik dari dalam maupun luar negeri.

"Bisa dari luar, atau yang versi Indonesia. Banyak startup anak negeri yang bisa digandeng seperti Ruangguru atau lainnya," kata Lucky.

Dengan kolaborasi ini aplikasi yang dibutuhkan untuk sekolah bisa langsung digunakan. Selain itu, perusahaan teknologi besar biasanya ada program untuk membantu pendidikan negara berkembang sehingga membuat perangkat untuk sekolah bisa dipangkas biaya produksinya.

"Jadi yang akan membedakan Laptop Merah Putih sudah langsung bisa digunakan untuk siswa belajar. Sementara laptop yang ada di pasaran harus beli dulu aplikasi yang akan digunakan, misalnya Office 365 dan lainnya," pungkas Lucky.

Kemendikbudristek akhirnya buka suara untuk meluruskan anggapan bahwa program laptop nilainya Rp 10 juta/unit. Sebelumnya, Menristekdikti Nadiem Makarim mengatakan pemerintah membeli 240.000 laptop produk dalam negeri (PDN) senilai Rp 2,4 triliun.

"Pemerintah mengalokasikan Rp 2,4 triliun untuk dana alokasi khusus pendidikan tahun 2021 di tingkat provinsi, kabupaten/kota untuk pembelian 240.000 laptop," kata Nadiem dalam jumpa pers virtual, Kamis (22/7).

Karo Perencanaan Kemendikbudristek, M Samsuri mengatakan yang dimaksudkan dengan laptop itu adalah paket teknologi informasi komunikasi (TIK). Paket itu bukan cuma laptop tapi juga termasuk perangkat pendukungnya.

"Di tahun 2021 akan ada 242.565 paket TIK dari Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik untuk 15.656 sekolah. Peralatan TIK ini bukan cuma laptop, tapi juga antara lain router, connector, printer dan scanner," kata Samsuri kepada detikINET, Kamis (29/7).



Simak Video "Komisi X DPR Minta Kemendikbudristek Gandeng KPK soal Pengadaan Laptop Rp 2,4 T"
[Gambas:Video 20detik]
(afr/fay)