Senin, 20 Mei 2019 16:40 WIB

Akses Android Akan Dibatasi, Huawei Mau Mulai 'Rencana B'?

Kris Fathoni W - detikInet
Foto: Reuters/Hannibal Hanschke Foto: Reuters/Hannibal Hanschke
Jakarta - Huawei menghadapi potensi keterbatasan besar dalam penggunaan sistem operasi Android. Tapi di sisi lain, mungkin ini justru jadi saat tepat buat Huawei memulai rencana B.

Google berencana membatasi penggunaan Android buat perangkat Huawei, seiring dengan keberadaan perusahaan asal China itu di dalam "daftar hitam" Presiden AS Donald Trump.

Hal ini bisa membuat smartphone Huawei yang akan rilis di masa depan tak lagi dapat dukungan dan akses langsung ke layanan inti Google di Android, seperti Google Play Store dan Gmail. Akses Huawei ke Android pun nantinya bisa cuma didapat secara terbatas melalui lisensi open source yang ada di ranah publik, alias Android Open Source Project (AOSP), dan bukan lagi melalui sebuah lisensi komersial.




Pun demikian, menurut Reuters, rincian layanan apa saja yang bakal terdampak masih dibahas oleh Google secara internal.

Menurut Leo Kelion, jurnalis teknologi dari BBC, hal itu bakal sangat memukul Huawei, secara khusus pada pasar di dunia Barat, walaupun mungkin hanya dalam jangka waktu pendek.




Dalam jangka waktu panjang, ia menyebut bahwa hal ini justru dapat memberi dorongan buat Huawei, dan para vendor smartphone lain pada umumnya, untuk mempertimbangkan secara serius kebutuhan alternatif dari sistem operasi Android-nya Google. Apalagi Google juga bisa saja menjadi rival berat para vendor itu setelah menghadirkan varian-varian Pixel yang lebih ramah kantong.

Sehubungan dengan itu, Huawei tampaknya juga sudah punya antisipasi tersendiri. Selain karena punya jeroan "milik sendiri" dalam smartphone-nya, Huawei rupanya juga sudah punya wacana bikin sistem operasi.




Hal itu di antaranya terungkap lewat sebuah petikan wawancara yang dilakukan media Jerman Die Welt dengan CEO Huawei Consumer Business Group Richard Yu pada bulan Maret lalu. Saat itu Yu ditanya mengenai kemungkinan Huawei untuk membuat sebuah sistem operasi sendiri sehingga smartphone-nya tak lagi berbasis Google dan komputernya tak tergantung dengan Microsoft. Ia mengaku pihaknya sudah punya skenario untuk mengantisipasi.

"Kami sudah mempersiapkan sistem operasi sendiri," jawab Yu saat itu. "Jika nantinya kami tak lagi bisa memakai sistem-sistem tersebut, kami akan siap. Itulah rencana B kami. Tapi tentu saja kami lebih suka bekerja dengan ekosistem Google dan Microsoft."


(krs/mon)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com