Selasa, 08 Jan 2019 16:33 WIB

Menguak Masalah Besar iPhone yang Memusingkan Apple

Fino Yurio Kristo - detikInet
Deretan iPhone XR. Foto: Getty Images Deretan iPhone XR. Foto: Getty Images
Jakarta - Pendapatan Apple diproyeksi menurun oleh sang CEO, Tim Cook. Biangnya terutama terkait performa iPhone yang tidak lagi secemerlang dulu. Padahal smartphone ini adalah produk terpenting bagi Apple.

Dua pertiga penjualan Apple tahun lalu berasal dari iPhone. Jumlah unit iPhone yang terjual memang sudah stagnan sejak tahun 2015, tapi Apple punya cara untuk tetap menaikkan pendapatan dan keuntungan, yaitu dengan terus meninggikan harga iPhone baru.

Setahun lalu, rekor pendapatan dan profit pun mereka cetak, membuat valuasinya membumbung hingga tembus USD 1 triliun. Tapi bulan madu itu hanya sesaat. Apple telah kehilangan nilai USD 500 miliar dalam 3 bulan terakhir, disalip Amazon, Microsoft, dan Alphabet.

Memang belum perlu panik, Apple masih perusahaan sehat dan dapat bertahan sampai bertahun-tahun dengan cadangan uangnya yang sangat melimpah. Tapi dikutip detikINET dari CNN, perlu strategi baru agar mereka bisa kembali tumbuh, terutama soal iPhone.




iPhone berada di persimpangan jalan dan menghadapi masalah besar. Salah satunya, iPhone betapapun bagus dan bergengsi, ternyata tak dapat menghindar dari tren penurunan pasar smartphone global.

"Pasar mobile sudah dewasa dan konsumen tidak lagi bisa diharapkan upgrade setiap kali iPhone diluncurkan," kata Nigel Vaz dari perusahaan konsultasi digital, Publicis.
Menguak Masalah Besar iPhone yang Memusingkan AppleTim Cook memegang iPhone. Foto: Reuters

Untuk mengatasi stagnasi penjualan iPhone, seperti sudah disebutkan, Apple menaikkan harganya sehingga pendapatan mereka tetap tumbuh. Sebut saja iPhone X dijual mulai USD 999, lalu iPhone XS Max USD 1.099.

Namun masalah lain muncul, Apple tak dapat terus menaikkan banderol iPhone. Banyak konsumen akan urung meminangnya jika harganya membumbung, termasuk fans Apple sendiri. Mereka bisa memilih tetap memakai iPhone lama atau membeli iPhone edisi sebelumnya yang lebih murah.




Fenomena itu sudah terjadi di China dan sinyal-sinyalnya mulai muncul di AS. "Kenaikan harga tidak berhasil. Permintaan iPhone tidak seelastis yang dibayangkan Apple," sebut Gene Munster, analis di Loop Ventures.

Apple pun harus segera mencari jalan keluar, mungkin dengan membenamkan inovasi besar pada iPhone selanjutnya. Pasalnya, tidak seperti Microsoft atau Amazon misalnya, Apple masih sangat bergantung pada penjualan gadgetnya. Sekitar 80% penjualan Apple berasal dari iPhone, Mac, dan iPad.

"Jalur yang dilalui iPhone familiar dengan beberapa kenangan di pasar mobile. Sebuah merek sukses besar, membangun basis user yang besar, menaikkan harga dan kemudian melihat penjualan mereka menurun. Apa yang terjadi selanjutnya adalah krusial," tulis kolumnis Forbes, Ewan Spence.


(fyk/krs)