Sabtu, 29 Des 2018 11:38 WIB

Gagal Total, Ponsel Bapak Android Tak Lagi Dijual

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Riwayat ponsel buatan Andy Rubin (bapak Android) bernama Essential Phone dipastikan tamat. Foto: Pocket Lint Riwayat ponsel buatan Andy Rubin (bapak Android) bernama Essential Phone dipastikan tamat. Foto: Pocket Lint
Jakarta - Perjalanan Essential Phone, smartphone yang dibuat oleh co-founder Android, Andy Rubin, harus berakhir. Essential selaku pembuatnya mengumumkan bahwa mereka resmi tak lagi menjual perangkat tersebut.

Tidak hanya menyetop penjualannya, Essential juga menyebut mereka tak lagi membuat ponsel tersebut. "Kami telah jual habis Essential Phone di essential.com dan tidak akan lagi menambah inventaris baru," ujarnya dalam keterangan resmi.


Saat mengunjungi situs resminya, tertulis bahwa produk Essential Phone memang "Sold Out". Sekadar informasi, ponsel tersebut terakhir dijual dengan harga USD 499, atau sekitar Rp 7,2 juta.

"Kini kami tengah berusaha keras untuk produk mobile kami selanjutkan dan akan terus menjual aksesori serta menyediakan pembaruan software sekaligus dukungan ke pelanggan untuk para komunitas," kata Essential melanjutkan keterangan di atas, sebagaimana detikINET kutip dari The Verge, Sabtu (29/12/2018).

Jadi, jika kamu memiliki Essential Phone, tak perlu risau akan ditinggal begitu saja oleh mereka. Software update masih akan diberikan, jadi tidak membuat perangkat tersebut menjadi ketinggalan zaman.

Lantas, apa produk mobile yang dimaksud dalam pernyataan di atas? Juru bicara Essential tidak dapat memberikan kepastian apakah itu akan menjadi ponsel.


Bisa jadi, perangkat yang disebutkan itu adalah ponsel mungil berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Andy Rubin menyebut ponsel ini bisa jadi "asisten pribadi" penggunanya.

Menarik untuk ditunggu bagaimana kiprah Essential dan Andy Rubin ke depannya. Yang jelas, walau berstatus sebagai penggagas notch pada smartphone, Essential Phone bisa dibilang gagal total lantaran tak menghasilkan penjualan yang begitu signifikan, meski sudah menelan biaya lebih dari USD 100 juta untuk pengembangannya. (mon/mon)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed