Selasa, 17 Apr 2018 12:57 WIB

Ponsel Dibilang Kemahalan, Ini Kata Asus

Rachmatunnisa - detikInet
Suasana pabrik Asus. (Foto: Rachmatunnisa/detikINET) Suasana pabrik Asus. (Foto: Rachmatunnisa/detikINET)
Jakarta - Asus berupaya tunduk aturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) dengan menggeber manufakturing di Indonesia. Di sisi lain, upaya ini membuat ponsel Asus dicibir sebagian orang kemahalan.

"Jadi effort untuk membuat perangkat ini luar biasa. Mungkin orang-orang bandingkan ponsel ini speknya sama dengan yang lain tapi kenapa lebih mahal? Karena kita 100% dibikin di sini," kata Head of Public Relations Asus Indonesia Muhammad Firman saat kunjungan ke pabrik Asus di Batam.

Dalam menggeber TKDN dari sisi hardware, Asus bekerjasama dengan pabrik PT. Satnusa Persada di Batam sejak 2015. Sejak itu pula, Asus secara bertahap memenuhi aturan TKDN. Dikatakan Firman, kerjasama dengan PT. Satnusa Persada merupakan investasi besar bagi Asus.


"Proses manufakturing itu sangat kompleks dan merupakan investasi besar. Gak semua produsen smartphone melakukan investasi membuat SMT line produksi di Indonesia," terangnya.

Disebutkan pula oleh Firman, bahwa Asus menjadi vendor pertama yang melakukan proses produksi ponsel secara completely knocked down (CKD) pada 2017. Ini berarti, proses perakitan ponsel dilakukan mulai dari perakitan komponen PCB (Surface Mount Technology/SMT) hingga berbentuk produk jadi.

Ponsel Dibilang Kemahalan, Ini Kata AsusAsus bekerjasama dengan pabrik PT Satnusa Persada. (Foto: Rachmatunnisa/detikINET)


"Standar TKDN 30% bisa cepat kami capai berkat adanya SMT line. Kelebihan lainnya, kami punya lini produksi yang komprehensif dibandingkan kompetitor yang hanya perakitan. Kita mulai dari perakitan sparepart sampai jadi, kita lakukan di sini, gak cuma assembling komponen yang tinggal pasang," paparnya.

CKD manufakturing dikatakan Asus memberi keuntungan dari sisi kontrol kualitas yang lebih komprehensif. Berkolaborasi dengan PT. Satnusa Persada, Asus mengaku sejak awal pede menyanggupi aturan TKDN dengan mantap memilih opsi dari sisi hardware.

"Ini yang jadi highlight kita, dibuat di Indonesia, oleh Indonesia dan untuk Indonesia. Kelebihannya sangat besar," kata Firman.


Asus tidak menyebutkan berapa besar investasi yang dialokasikannya demi TKDN dari sisi manufakturing. Namun Presiden Direktur PT Satnusa Persada Abidin Hasibuan memberikan gambaran, investasi untuk per line produksi bisa mencapai USD 4 juta.

Ponsel Dibilang Kemahalan, Ini Kata Asus(ki-ka) Presdir PT Satnusa Persada Abidin Hasibuan dan Country Marketing Manager Asus Indonesia Galip Fu. (Foto: Rachmatunnisa/detikINET)


"Saat ini ada lima line, terdiri dari tiga mainboard dan dua subboard line, dengan kapasitas produksi mencapai 500 ribu unit per bulan tergantung permintaan market. Kalau memang perlu lebih ditingkatkan kita akan tambah lagi investasi. Saya rasa yang bisa SKD baru di Satnusa satu-satunya kecuali perusahaan yang punya brand," tutupnya. (rns/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed