Rabu, 07 Feb 2018 16:18 WIB

Laporan dari Roma

Samsung Berkaca dari Arogansi Nokia

Ardhi Suryadhi - detikInet
Jo Semidang. Foto: Ardhi Suryadhi/detikcom Jo Semidang. Foto: Ardhi Suryadhi/detikcom
Roma - Sekitar 10-15 tahun lalu, siapa tak kenal Nokia? Raja ponsel dunia yang tiada lawannya. Namun siapa yang mengira jika kini Nokia berujung nestapa.

Ya, brand ponsel sejuta umat kini seakan tenggelam bak ditelan lautan, seiring dengan lambatnya mereka merespons perubahan yang terjadi di pasar telepon genggam yang sedemikian cepat.

Analisa lain juga menyebut runtuhnya kerajaan bisnis ponsel Nokia juga lantaran ada sifat arogansi dari para petingginya yang kala itu enggan mengakui eksistensi ekosistem Android.

Sampai akhirnya, induk perusahaan Nokia kemudian melepas divisi ponselnya ke tangan Microsoft pada tahun 2014. Tapi sekeras apapun Microsoft berusaha, ponsel Nokia tak pernah bisa bangkit.

Hingga akhirnya Microsoft menyerah dan sebuah startup asal Finlandia bernama HMD Global diserahi tugas oleh induk perusahaan Nokia membangkitkan kembali namanya di jagat ponsel dunia dengan menggunakan OS Android yang dulu pernah ditolak mentah-mentah berada di smartphone Nokia.

Kisah 'from hero to zero' Nokia ini pun dipegang betul oleh Samsung. Sebagai penguasa pasar ponsel saat ini, sang vendor asal Korea Selatan lebih memilih pendekatan humble ketika ditanya soal serbuan kompetitornya.

"Kita sangat belajar kasus Nokia dan BlackBerry, kita gak bisa merasa puas, kompetisi pasti ada. Tetapi kita pokoknya kasih yang terbaik untuk konsumen. Memang ini terdengear agak chezzy, tetapi ini benar, kita ingin memberikan yang terbaik ke konsumen, gak cuma jualan barang," kata Jo Semidang, Corporate Marketing Director Samsung Indonesia di sela event Samsung Forum yang berlangsung di Roma, Italia, Rabu (7/2/2018)

Jo sendiri melihat kompetisi di bisnis ponsel itu ibarat pertandingan lari maraton. Dimana para peserta tidak boleh berhenti lantara kompetitor terus menerus mengejar.

"Terlebih posisi Samsung sebagai leader di market. Sederhananya tinggal melihat leader bikin apa, lalu tinggal mengkopi, dan jual dengan harga lebih murah. Itu resep mudahnya. Makanya yang harus kita (Samsung-red.) bangun itu nilai sebagai brand Samsung, bukan cuma bikin barang," lanjutnya.

Beruntung, Samsung punya core bisnis teknologi lain di beberapa area, semisal display dan chipset yang juga akan sangat mendukung perkembangan produknya dari sisi hardware. Pun begitu, fokus mereka tak mau melulu soal hardware, melainkan juga masuk dari sisi consumer benefit.

"Samsung sebagai brand leader itu punya brand value yang tinggi, dan saya sebagai orang marketing pasti juga akan menggunakan itu sebagai power. jadi kalau ada spesifikasi ponsel sama dengan brand lain, maka orang pun akan lebih memilih Samsung. Jadi bener sih, banyak orang komentar ,'ah mendingan Samsung', jadi ada brand value di sini," Jo menambahkan.

Brand value ini pun dianggap Jo bukan sekadar tong kosong. Sebab di situ ada investasi sangat besar yang telah digelontorkan, mulai dari waktu, uang, jerih payah serta pada akhirnya mendapatkan kepercayaan dari konsumen. Dari situ ditegaskan dengan fasilitas post service mumpuni, experience lebih baik, serta layanan nilai tambah lainnya.

"Makanya ada Bixby, dan kita akan mengarah ke konten dan services yang lain. Contohnya kita tahun lalu meluncurkan MySamsung, dan kita punya Galaxy Gift. Jadi orang beli Samsung gak cuma hardware tetapi totalitas, ada service, durability, after service dan lainnya," ujar Jo.

Kejadian kelam yang pernah merundung Galaxy Note 7 pun jadi pembelajaran berharga bagi Samsung. Seperti diketahui, saat baru diluncurkan, Note 7 dihantam kasus overheat (panas berlebih) sehingga memaksa Samsung untuk mengeluarkan kebijakan recall. Di Indonesia sendiri, Note 7 kala itu baru sebatas membuka keran pre-order.

Jo mengisahkan, saat krisis Note 7, Samsung terbilang cepat dalam mengambil keputusan. Padahal biasanya jika melihat kasus-kasus recall yang lain itu kerap melalui proses panjang, dan perusahaan yang bersangkutan pun biasanya menutupi atau mengelak.

"Tetapi kita waktu itu cepet banget prosesnya. Oke ini ada faulty, kita gak tahu kenapa (masih diselidiki) dan kita akan recall. Kita di Samsung Indonesia sendiri pun — kebetulan saya duduk di Crisis Management — pokoknya berpikir gak bisa membuat konsumen merasa dirugikan. Sebab setelah konsumen kecewa dan membuat mereka balik lagi itu mahal," lanjutnya.

Sebaliknya, Jo yakin di setiap ada krisis itu pasti ada opportunity. Maka dari itu ketika kasus Note 7 meledak, Samsung langsung bergerak cepat dengan meredam isu negatif itu dengan menggelontorkan voucher tambahan yang menggiurkan ke pelanggan yang sudah melakukan pre-order.

"Malah ada yang menyesal 'kenapa gak pre-order Note 7'. Jadi kita mainnya jangka panjang mainnya untuk membangun relationship dengan konsumen," Jo menutup perbincangan. (ash/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed