Namun jangan berharap Intel menyiapkan penantang Snapdragon 820 atau MediaTek, karena prosesor ARM yang digarap Intel ternyata punya tujuan berbeda. Kalau produsen seperti Qualcomm dan MediaTek membuat prosesor ARM untuk dibenamkan di ponsel, maka Intel lebih jauh dari itu.
Prosesor berteknologi field-programmable gate array (FPGA) berbasis ARM yang dibuat Intel nyatanya digarap untuk tujuan penggunaan di server, atau untuk menangani infrastruktur berbasis software-defined networking.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"(Optimal untuk) komputasi dan aplikasi dengan intensitas data tinggi, seperti data center, network infratsruktur, komputasi cloud, dan radar serta sistem pencitraan," tulis Intel dalam pernyataannya, seperti detikINET kutip dari The Register.
Intel sendiri menamainya dengan sebutan Stratix 10, dengan mengusung pabrikasi 14 nm. Teknologinya quad core 64 bit, yang di dalamnya terbenam arsitekstir Cortex-A53. Dibanding pendahulunya yang bernama Stratix V, Intel mengklaim Stratix 10 punya performa dua kali lipat lebih baik.
Namun dari sisi konsumsi daya, Stratix 10 malah lebih efisien hingga 70% dengan beban komputasi yang sama, yakni 1 teraflop (single precision) dengan memory bandwidth 1 terabyte per detik. (yud/ash)