Perangkat yang dimodifikasi dari smartphone ini dinamakan Kikitabi, bahasa Jepang yang maknanya lebih kurang sama dengan tour guide atau pemandu wisata. Alat ini menyediakan layanan informasi suara di lokasi wisata untuk para turis, tak ubahnya seperti pemandu wisata pribadi.
"Alat ini sudah diluncurkan di Jepang, dan menyusul Hong Kong dan Singapura pada tahun 2014," kata Yasuaki Onishi, Executive GM of Corporate Research & Technology Group, Fuji Xerox Co. Ltd saat ujicoba perangkat tersebut di hadapan wartawan termasuk detikINET di Tokyo, Jepang awal November lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Jepang, alat itu sudah dipergunakan di Kamakura, salah satu lokasi wisata favorit turis di Kanagawa, Jepang. Pengelola wisata menyewa alat dan program itu dari Fuji Xerox, lantas disewakan lagi ke turis dengan tarif tertentu.
Jadi turis tinggal menyalakan Kikitabi dengan menekan tombol, lantas 75 detik berikutnya alat itu sudah terkoneksi dengan GPS yang diketahui dengan munculnya angka koordinat di layar, dan baterainya akan menyala selama 4 jam.
Berikutnya turis bisa berkeliling sendirian sambil mendengar informasi yang diberikan alat yang idealnya digantungkan di leher tersebut. Turis akan terus mendapat informasi tentang bangunan kuno, toko, hingga pohon khas yang ada di lokasi wisata itu, selama dia mendekat ke titik itu. Jika tidak ada info, maka alat itu otomatis diam atau bisa mendengarkan instrumentalia.
Ke depan, teknologi besutan divisi SkyDesk Media Switch Fuji Xerox ini akan terus dikembangkan sehingga dapat menjadi aplikasi yang mudah didownload dan dipergunakan di handphone pintar.
Cakupannya pun tak hanya untuk turis, tapi perorangan maupun lembaga yang membutuhkan informasi secara audio maupun teks serta gambar yang disediakan Fuji Xerox dari Kikitabi sepanjang perjalanan dari satu titik ke titik lainnya di muka bumi.
(rul/ash)