Perangkat yang bisa menampilkan video Ultra HD memang sudah mulai bertebaran, hanya saja konten dengan format tersebut masih sulit ditemukan di pasaran. Alhasil, para pemilik TV Ultra HD pun belum bisa memaksimalkan layar kaca mereka.
Belum ada Standar Format
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi sayangnya, menurut Amon Sabara, Product Marketing TV PT Samsung Electronics Indonesia, video dalam format tersebut masih memiliki kapasitas yang cukup besar. Jadi rasa-rasanya masih belum bisa dinikmati secara massal.
"Bayangkan, 10 menit film itu bisa menghabiskan 10 GB. Tentu ini membutuhkan infrastruktur yang memadai untuk itu (streaming-red)," katanya, usai memperkenalkan jajaran TV Ultra HD Samsung.
Format yang belum standart, minimnya konten, adalah pekerjaan rumah bagi para produsen TV ultra HD, termasuk Samsung yang coba mengakalinya dengan berbagai trik.
Soal kompatibilitas produk terhadap standar di masa depan, Samsung menyerahkanya melalui One Connect, sebuah kotak yang berisi berbagai port multimedia serta software dan chip grafis untuk mengolah gambar.
"Dengan One Connect Anda tak perlu membeli televisi baru jika ingin upgrade," jelas Amon.
Selain One Connect jajaran tv ultraHD Samsung juga dibekali kemampuan upscaling gambar. Artinya, film dengan resolusi berapa pun akan bisa 'ditarik' untuk ditampilkan dalam format ultra HD.
"Hasilnya memang tidak seperti film dalam format ultra HD yang asli, tapi paling tidak ini sudah lebih baik dibanding kualitas aslinya," lanjut Amon menjelaskan.
Pun begitu, Amon memprediksi era tayangan ultra HD akan dimulai dalam waktu dekat, karena beberapa layanan TV berbayar internasional sudah mulai melakukan migrasi ke resolusi yang lebih tinggi itu.
"BBC, NHK, sudah mulai beralih ke tayangan ultra HD. Tapi saya rasa puncaknya (era ultraHD-red) para World Cup 2014 nanti yang juga akan disiarkan dalam format ultra HD," tandas Amon.
(eno/ash)