Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Antrean BlackBerry
Strategi Pemasaran yang Memakan Korban
Antrean BlackBerry

Strategi Pemasaran yang Memakan Korban


- detikInet

Jakarta - Orang Indonesia memang unik. Mulai dari sembako murah sampai gadget mutakhir, semua rela diantre berbondong-bondong. Tak terkecuali handset terbaru keluaran Research in Motion (RIM), BlackBerry Bellagio 9790, yang menawarkan potongan harga 50% untuk 1.000 pembeli pertama.

Menurut BlackBerry Certified Support Specialist, Faizal Adiputra, kultur orang Indonesia yang rela mengantre seperti itu akhirnya dimanfaatkan oleh RIM untuk mengatrol kembali penjualannya yang mulai landai akibat gempuran smartphone kompetitor.

"RIM bukan jual modal, tapi memang sengaja kasih diskon. Mereka lagi buang subsidi saja. Ini tentunya untuk menaikkan brand karena penjualannya sedang agak turun," ujarnya pada detikINET, Jumat (25/11/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pandangan yang sama juga disampaikan oleh Dolly Surya Wisaka, praktisi telematika yang pernah lama berkecimpung untuk urusan bundling gadget di operator seluler. "RIM memang benar-benar subsidi dari cost marketing promo mereka," kata dia.

Urusan antre-mengantre memang bukan kali ini saja kita lihat di Indonesia. Pemandangan itu jadi hal yang biasa saat vendor prinsipal ponsel maupun gadget mulai memasarkan produknya untuk kali pertama ke publik Indonesia.

Tentu kita masih ingat beberapa tahun lalu, bagaimana ponsel Nokia Communicator yang harganya waktu itu sempat menembus Rp 15 juta namun tetap diantre dan laku keras bak kacang goreng.

Antrean lain juga sempat kita lihat bagaimana Nexian yang notabene cuma 'brand lokal' juga tetap diserbu karena harganya yang lumayan murah namun tetap kelihatan trendi oleh sebagian masyarakat.

Nah, tak bisa dipungkiri, kultur budaya seperti itu sangat menarik minat para prinsipal produk untuk menjadikan Indonesia sebagai target market utama mereka. Bahkan, RIM pun sampai menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang mencicipi BlackBerry Bellagio.

"Mungkin RIM menilai cost promo di Indonesia murah. Taruhlah mereka subsidi USD 200 per device, dikali 1.000 cuma USD 200 ribu (sekitar Rp 1,82 miliar), tapi efek word of mouth (WoM)-nya dahsyat," demikian analisa Dolly.

Memang, efeknya dahsyat. Seharian ini, hampir semua orang membicarakan tentang diskon 50% yang ditawarkan RIM. Namun sayangnya, efek dahsyat itu tak disertai kesiapan yang matang dari pihak penyelenggara. Sampai pada akhirnya memakan banyak korban, 90 orang. Ironis.


(rou/ash)







Hide Ads