Dalam konferensi open source se-Asia Afrika yang resmi dibuka hari ini, Menristek mengatakan ada tiga mitos negatif yang beredar di kalangan pengguna komputer hingga mengurungkan niat mereka bermigrasi ke open source.
Pertama adalah karena open source dianggap hanya layak digunakan para pakar teknologi informasi (TI) saja. "Open source bukan untuk pakar TI, kita semua juga bisa memakainya," tandas Kusmayanto, di AuditoriumΒ Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Selasa (18/11/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mitos ketiga yang juga sering dipertanyakan adalah masih banyak yang pesimistis soal dukungan yang diberikan open source, seperti tersedianya aplikasi dan hardware pendukung dan lainnya.
"Ini yang biasanya dikeluhkan masyawakat umum, tapi open source sudah memiliki interoperability dengan software lain," katanya lagi.
Pemerintah Indonesia sendiri sudah meluncurkan program Indonesia go Open Source (IGOS). Program ini diharapkan dapat mengubah persepsi masyarakat untuk berani beralih ke software berbasis open source.
Namun program IGOS ternyata tidak berjalan semudah yang dibayangkan karena sulit mengubah kebiasaan orang. "Ada yang menolak, ada yang masih wait and see, ada yang sebelum menggunakan bertanya dulu apa keuntungannya", jelas Kusmayanto.
Ristek kemudian mengambil sikap dengan menggunakan prinsip iron hand atau tangan besi (sedikit dipaksa-red) untuk menggalakkan open source di instansi tersebut. Namun Kusmayanto menegaskan, iron hand yang digunakan lebih diperhalus. (dwn/dwn)