Dalam acara di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Kamis (13/12/2007), kedua pihak kembali menegaskan berlanjutnya kerajsama yang telah dijalin selama enam tahun. Budi Dharmadi, Dirjen Alat Transportasi dan Telematika, Departemen Perindustrian, mengatakan hal ini membuka jendela kesempatan untuk mengembangkan kolaborasi teknologi dan riset bersama.
Budi berharap kerjasama ini juga akan meningkatkan belanja produk teknologi yang dihasilkan di Indonesia. Ia mencontohkan, dari sekitar Rp 4-5 triliun total belanja industri yang dihabiskan perusahaan telekomunikasi 90 persennya masih impor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita perbanyak pasokan untuk operator-operator, seperti switching, software aplikasinya hingga network integrator. Saat ini kita punya 20 perusahaan menengah ke atas lokal yang bergerak di bidang ini," ujar Budi.
Peran Korea dalam hal ini adalah membagi ilmunya di bidang TIK. Sejak kerjasama ini berjalan, ujar Budi, Indonesia berhasil menarik perusahaan asal Korea Selatan untuk berpoduksi di dalam negeri karena Indonesia mampu membuat suku cadang yang dibutuhkan.
Lee Yun-soo, Vice President Global Business Division, Korea IT International Corporation Agency (KIICA), mengatakan saat ini yang lebih baik untuk dikembangkan oleh Indonesia adalah piranti lunak. "Saya percaya dengan teknologi dari Korea dan sumber daya manusia dari Indonesia, kita bisa meningkatkan industri," ujar Lee.
Lee menggarisbawahi betapa hubungan RI-Korsel dalam TIK sangat erat. Indonesia menurutnya adalah satu-satunya negara yang didatangi setiap tahun dalam rangka kerjasama TIK.
(wsh/wsh)