Dari total produksi perikanan Indonesia yang mencapai sekitar 15 juta ton per tahun pada 2025, kurang dari 12 persen yang tersentuh penanganan teknologi rantai dingin secara memadai.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada tingginya angka susut hasil tangkapan, penurunan harga jual nelayan, hingga rendahnya daya saing ekspor perikanan Indonesia dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand.
Dampaknya Bagi Nelayan dan Ekspor Nasional
Anggota Komisi IV DPR RI Prof. Rokhmin Dahuri menjelaskan bahwa komoditas hasil laut merupakan produk yang sangat mudah rusak, sehingga membutuhkan penanganan suhu presisi dari awal penangkapan hingga sampai ke tangan konsumen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kualitas atau mutu ikan dan seafood sudah menurun, bukan hanya berdampak ekonomi, yaitu harga jualnya rendah atau bahkan tidak laku. Ada juga dampak terhadap kesehatan dan rendahnya nilai ekspor kita," ujar Rokhmin.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Rokhmin memicu dorongan penggunaan teknologi pendingin ramah lingkungan (low carbon/zero carbon) berbasis energi surya. Pemanfaatan tenaga matahari dipandang potensial diterapkan secara bertahap pada armada kapal penangkap ikan, cool box, refrigerator, hingga cold storage agar tidak lagi bergantung pada energi fosil.
Syarat TKDN dan Transfer Teknologi
Di sisi lain, Rokhmin mengingatkan pemerintah agar tidak sekadar membuka pintu impor teknologi asing. Kerja sama dengan pihak luar negeri wajib menyertakan syarat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta transfer teknologi.
Komisi IV DPR RI memastikan bakal mengawal kebijakan ini agar industri dalam negeri mampu memproduksi komponen rantai dingin secara mandiri, menciptakan nilai tambah, dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal.
Inovasi Cold Storage Portable Ramah Lingkungan
Menjawab kebutuhan industri tersebut, PT DS Solutions International selaku perwakilan resmi TITAN Containers menghadirkan solusi cold storage portable dalam ajang RHVAC Indonesia 2026 yang berlangsung pada 9--11 September 2026 di Nusantara Indonesia Convention Exhibition (NICE), PIK2.
Dua unit unggulan yang dipamerkan di antaranya:
- ArcticBlast 20FT: Unit khusus rapid chilling dan blast freezing berteknologi mesin ganda yang mampu menurunkan suhu secara cepat hingga -40Β°C untuk mempertahankan kesegaran seafood, daging, dan unggas.
- ArcticStore Horizon 40FT: Generasi cold storage terbaru dengan rentang suhu -30Β°C hingga +30Β°C. Unit ini menghemat energi hingga 55% dibanding reefer konvensional berkat panel insulasi modern dan refrigeran ramah lingkungan (GWP 0,5). Unit ini juga mendukung integrasi panel surya opsional yang hemat energi hingga 25% lebih lanjut.
Penguatan rantai dingin dan adopsi energi terbarukan ini diharapkan menjadi fondasi utama dalam menopang program Kampung Nelayan Merah Putih serta menciptakan ekosistem perikanan Indonesia yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.
(asj/asj)

