Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Uber PHK 3.300 Karyawan, Robotaxi Mulai Jadi Ancaman

Uber PHK 3.300 Karyawan, Robotaxi Mulai Jadi Ancaman


Adi Fida Rahman - detikInet

Ilustrasi Uber
Uber PHK 3.300 Karyawan, Robotaxi Mulai Jadi Ancaman Foto: Reuters
Jakarta -

Uber mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 3.300 karyawan atau 10% dari total tenaga kerja globalnya. Ini menjadi gelombang PHK terbesar Uber sejak pandemi COVID-19 pada 2020.

CEO Uber Dara Khosrowshahi mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk memangkas lapisan manajemen, menyederhanakan struktur tim, dan mempercepat pengambilan keputusan di dalam perusahaan.

"Pertumbuhan juga membawa kompleksitas: lebih banyak lapisan, lebih banyak koordinasi, kepemilikan yang lebih terfragmentasi, dan dalam beberapa kasus struktur yang dulu masuk akal ketika bisnis masih kecil tetapi tidak lagi cocok dengan skala kami saat ini," tulis Khosrowshahi dalam memo kepada karyawan, dikutip dari Reuters.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Uber juga akan mengurangi jumlah manajer sekitar 20% dan memangkas tim-tim kecil. Setelah PHK, jumlah karyawan perusahaan diperkirakan turun menjadi kurang dari 30.000 orang.

Perusahaan turut memperketat kebijakan kerja jarak jauh. Posisi yang sepenuhnya remote nantinya hanya tersedia untuk kurang dari 1% karyawan.

Uber Siapkan Dana Jumbo untuk Robotaxi

PHK ini terjadi ketika Uber sedang meningkatkan investasinya pada kendaraan otonom atau robotaxi.

Uber sebelumnya mengatakan akan mengucurkan lebih dari USD 10 miliar dalam beberapa tahun ke depan untuk memperluas bisnis kendaraan otonom. Perusahaan bekerja sama dengan sejumlah pemain robotaxi dan menganggap Waymo sebagai salah satu partner pentingnya.

Di saat bersamaan, perusahaan menghadapi kemungkinan perubahan besar pada industri ride-hailing ketika robotaxi milik Waymo dan Tesla terus memperluas layanan.

Uber tidak mengatakan PHK kali ini secara langsung disebabkan oleh robotaxi ataupun kecerdasan buatan. Khosrowshahi justru menyebut penghematan dari restrukturisasi akan dialihkan ke area yang dinilai memiliki peluang pertumbuhan terbesar, termasuk inovasi dan masa depan mobilitas otonom.

Karena itu, lebih tepat melihat robotaxi sebagai salah satu konteks strategis di balik perubahan struktur Uber, bukan penyebab tunggal PHK.

Bisnis Uber Masih Tumbuh

Menariknya, PHK dilakukan ketika kinerja bisnis Uber tidak sedang dalam kondisi buruk.

Dalam memo kepada karyawan, Khosrowshahi mengatakan bisnis Uber berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun pertumbuhan tersebut menurutnya membuat organisasi menjadi terlalu kompleks dan lambat.

Selain ride-hailing, Uber juga sedang memperbesar bisnis pengiriman dan robotaxi. Perusahaan bahkan terus melakukan investasi dan akuisisi untuk memperluas jangkauannya di tengah persaingan dengan layanan seperti DoorDash dan Instacart.

Meski Uber sudah tidak mengoperasikan layanan ride-hailing-nya secara langsung di Indonesia setelah bisnis Asia Tenggaranya dilepas ke Grab pada 2018, perubahan strategi perusahaan tetap menarik untuk diperhatikan.

Perkembangan robotaxi memperlihatkan bagaimana industri transportasi online mulai berubah dari bisnis yang sepenuhnya bergantung pada pengemudi manusia menuju layanan yang semakin banyak mengandalkan kendaraan otonom.



(afr/afr)




Hide Ads