Nvidia menjalin kerja sama dengan konsorsium teknologi teranyar asal Jepang, Noetra, untuk membangun sebuah pabrik AI berkapasitas 140 megawatt. Fasilitas ini akan menjadi tulang punggung komputasi bagi program FRONTia milik pemerintah Jepang yang berfokus pada pengembangan robotik, otomasi industri, dan digital twins.
Pabrik AI berskala raksasa ini akan beroperasi menggunakan platform pusat data Nvidia DSX dan memanfaatkan rak server Vera Rubin NVL72. Proyek ini dijadwalkan akan menyerap anggaran awal sebesar 387,3 miliar yen atau sekitar USD 2,4 juta (setara Rp 38,8 triliun) hingga tahun anggaran 2030, dengan target jangka panjang mencapai 1 triliun yen (sekitar USD 6,1 miliar).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menangani pelatihan model AI dengan triliunan parameter, fasilitas ini akan dijejali dengan infrastruktur perangkat keras yang sangat masif:
- Membutuhkan total 27.500 GPU Rubin dan 13.750 CPU Vera.
- Seluruh komponen tersebut akan didistribusikan ke dalam 382 rak Vera Rubin NVL72 yang saling terhubung melalui jaringan Spectrum-X Ethernet.
- Setiap rak server tersebut mengintegrasikan secara rapat 72 GPU Rubin dan 36 CPU Vera untuk menghadirkan komunikasi bandwidth tinggi NVLink.
- Estimasi pasar menunjukkan harga satu sistem VR200 NVL72 berkisar antara USD 5 juta hingga USD 7 juta, yang berarti total nilai perangkat keras raknya saja mencapai USD 1,9 miliar hingga USD 2,7 miliar sebelum menghitung biaya memori dan sistem pendingin.
Sistem berbasis arsitektur chip Rubin ini baru akan memasuki tahap produksi massal pada paruh kedua tahun ini, sehingga pembangunan pabrik AI diprediksi akan berjalan secara bertahap.
Fokus pada AI dunia nyata dan robotik
Berbeda dengan proyek superkomputer swasta pada umumnya, pabrik AI ini diposisikan sebagai platform penuh yang mencakup chip, jaringan, sistem, dan perangkat lunak untuk melatih model fondasi multimodal terbuka. Model AI ini dirancang khusus agar dapat berinteraksi langsung dengan robot dan sistem fisik, bukan sekadar memproses teks atau gambar.
Pemerintah Jepang berencana membagikan bobot prapelatihan (pretrained weights) secara luas kepada para pengembang dan perusahaan domestik agar dapat disesuaikan untuk kebutuhan logistik dan industri mereka sendiri.
Konsorsium Noetra, yang memenangkan tender proyek pemerintah ini, dipimpin langsung oleh perusahaan raksasa seperti SoftBank Corp., Sony, NEC, dan Honda, serta didukung oleh 44 perusahaan dan organisasi lainnya. Peta jalan FRONTia ditargetkan melahirkan model penalaran pada 2026, model omni-modal (teks, video, audio) pada 2028, hingga AI asli dunia nyata dengan kesadaran spasial penuh untuk robot di pabrik dan rumah sakit pada 2030.
Langkah ini sejalan dengan Strategi Robotik AI Jepang yang dirilis Maret lalu, yang membidik penguasaan lebih dari 30 persen pasar robotik AI global pada tahun 2040 dengan potensi nilai mencapai USD 133 miliar. Melalui investasi masif ini, pemerintah Jepang menegaskan komputasi AI fisik skala besar sebagai aset nasional yang wajib dikendalikan secara mandiri, demikian dikutip detikINET dari Tom's Hardware, Senin (20/7/2026).

