OpenAI, pencipta ChatGPT, melakukan pertaruhan terbesar demi masa depan yang dikuasai AI. Mereka berkomitmen menggelontorkan lebih dari USD 1 triliun untuk membangun data center raksasa, meskipun fundamental bisnisnya masih tertinggal dan belum ada profit.
Sang CEO, Sam Altman, mengakui perusahaan berencana menahan diri dan mungkin memperlambat perekrutan pegawai secara drastis seiring tergerusnya miliaran dolar kas perusahaan. Di saat yang sama, Altman tetap menunjukkan optimisme mengenai apa yang akan ditawarkan teknologinya kepada dunia.
Ketika ditanya apakah AI dapat digunakan mengatasi kesenjangan ekonomi, dia berargumen AI mampu menurunkan harga. "Mengingat kemajuan dalam pekerjaan yang dapat Anda lakukan di depan komputer, serta apa yang tampaknya akan segera terjadi dengan robotika dan banyak hal lain, kita akan mengalami tekanan deflasi yang sangat besar," prediksinya yang dikutip detikINET dari Futurism, Minggu (1/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat tekanan deflasi, Altman menjanjikan berbagai hal jadi jauh lebih murah dan pemberdayaan individu meningkat karena nilai uang lebih tinggi. Altman menilai perubahan ekonomi ini adalah hasil dari AI yang membuat individu jauh lebih produktif.
Ia berpendapat akhir tahun ini, seseorang yang menghabiskan USD 1.000 untuk menjalankan AI, dapat menyelesaikan sebuah software dalam waktu singkat, tugas yang sebelumnya perlu waktu jauh lebih lama bagi satu tim.
Argumen AI memicu era kelimpahan yang menyasar penurunan biaya hidup dan bahwa orang-orang bisa memilih untuk tidak bekerja jika tidak mau, sudah lama digaungkan pemimpin teknologi, termasuk Altman dan CEO xAI, Elon Musk, untuk mendorong hype kecerdasan buatan ini.
Namun mengingat kondisi ekonomi saat ini, hal tersebut dinilai angan-angan. Realitasnya, AI masih sangat jauh dari meningkatkan efisiensi yang cukup untuk mengimbangi inflasi. AI lebih sering dikaitkan dengan PHK massal yang membuat bertahan hidup semakin sulit, diiringi biaya hidup yang juga terus menanjak.
Apakah AI akan datang sebagai penyelamat dan secara drastis menurunkan harga masih perlu dibuktikan. Bagi banyak kritikusnya, AI belum menunjukkan potensinya. Beberapa berpendapat bahwa OpenAI sendiri bisa runtuh seketika jika terjadi penarikan dana besar-besaran.
Jadi, ada banyak alasan untuk skeptis terhadap klaim Altman bahwa AI akan meningkatkan daya beli lantaran meroketnya produktivitas. Namun dia bahkan melangkah lebih jauh dengan berpendapat AI bisa menyembuhkan kanker, mengatasi perubahan iklim, dan meringankan kesulitan finansial dengan kesehatan ekstrem universal.
(fyk/fyk)