Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Ingin Tingkatkan Penjualan, SPSS Rangkul BSA

Ingin Tingkatkan Penjualan, SPSS Rangkul BSA


- detikInet

Jakarta - SPSS Indonesia akan menjadi anggota Business Software Alliance (BSA) pada kwartal kedua tahun 2007. Hal itu dilakukannya agar penjualan piranti lunak statistik mereka. Direktur Operational SPSS Indonesia T.F. Lim, sampai saat ini pelanggan SPSS 60 persen dari segmen korporasi, sedangkan 40 persennya dari akademisi. Ironisnya, ujar Lim, untuk kalangan pengguna personal dari Indonesia yang membeli lisensi asli SPSS hanya dua orang sejak tahun 1996. "Maka dari itu, kita saat ini sedang dalam taraf pembicaraan untuk menjadi anggota BSA. Pembicaraan masih agak sulit karena dilakukan oleh lawyer di Chicago," ujar Lim saat media update yang digelar di Hotel ShangriLa, Rabu (2/5/2007). Lebih lanjut Lim mengatakan dari 40 persen kalangan akademisi yang menggunakan lisensi SPSS, ia menduga masih banyak kampus atau institusi pendidikan yang menyalahgunakan lisensi yang telah mereka miliki. "Mereka beli satu atau dua lisensi, tapi dipakai hampir sepuluh komputer," tukasnya. Dengan menjadi anggota BSA, diharapkan akan menguatkan brand SPSS sehingga mendorong pengguna produk SPSS untuk membeli lisensi yang asli. "Kami tahu banyak perusahaan yang pakai. Tapi mereka tidak beli lisensi. Dengan masuk BSA, kami harap mereka akan membeli lisensi yang asli," Lim menambahkan. BSA selama ini memang cukup getol menangani masalah pembajakan piranti lunak di Indonesia. Salah satunya melalui kerjasama dengan kepolisian. BSA juga mendukung upaya penegakan hukum hak cipta yang dilakukan Kepolisian, termasuk razia. Khusus masalah razia itu Lim mengatakan SPSS Indonesia akan menyerahkan sepenuhnya ke BSA. Hal ini sama seperti kebijakan yang dianut anggota BSA lainnya. Produk BaruDi tempat yang sama, SPSS Indonesia memperkenalkan aplikasi terbaru mereka bernama 'ShowCase'. Aplikasi itu terintegrasi dengan manajemen data, administrasi, dan fitur keamanan dari server perusahaan. Namun, aplikasi itu hanya bisa dijalankan pada server System I. Melalui Showcase, pengguna akan mendapatkan live report dari data perusahaan selama ia terhubung dengan internet. Dengan itu pengguna bisa mendapatkan laporan, analisis, dan prediksi dari data tersebut. Alex Lee Yew Meng, Principal Consultant SPSS Asia Pacific, mengakui harga aplikasi terbaru ini tergolong mahal. Oleh karena itu ia menargetkan untuk pengguna kelas berat. Sebagai gambaran, harga Showcase ini berkisar US$ 20.000 hingga 300.000. "Kami juga tidak ingin memaksakan perusahaan untuk dapat menggunakan full version dari aplikasi ini. Tapi, mungkin bisa mencoba dulu di tiap bagian," ujar Alex. (wsh/wsh)







Hide Ads