Selama 2006, SAP di Indonesia Ngos-Ngosan
- detikInet
Bandung -
Tahun 2006 dianggap sebagai masa sulit perkembangan industri aplikasi piranti lunak bisnis. Butuh usaha ekstra keras untuk meraih target yang dicanangkan di tahun itu.Seperti diungkapkan Singgih Widodo, direktur marketing dan channel PT SAP Indonesia, di awal-awal tahun 2006 merupakan periode yang sangat sulit bagi perkembangan industri aplikasi piranti lunak bisnis. "Kuartal satu dan dua agak seret, baru di kuartal ketiga mulai kelihatan pertumbuhannya," tuturnya, kepada para wartawan di sela-sela acara press gathering SAP di Novotel, Bandung yang berlangsung hingga Jumat (23/2/2007).Tahun 2006, lanjut Singgih, SAP bisa dibilang hanya bisa bekerja secara optimal di kuartal ketiga dan keempat saja, karena sulitnya kondisi di awal tahun itu. "Kita harus sampai ngos-ngosan tahun (2006) ini," ujarnya.Menurut Singgih, jika dibandingkan pada periode tahun 1998 sampai 2005, tahun lalu dirasa sangat berbeda untuk perkembangan industri ini. Ia yakin ini tidak hanya menimpa Indonesia, tetapi juga terjadi di beberapa negara yang lain.Salah satu faktor yang diduga Singgih menjadi penyebab adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat berkurangnya subsidi dari pemerintah. "Kalau tidak ada spending dari goverment maka sektor riil menjadi tidak jalan, karena sektor publik sebagai penggerak industri," kilahnya. Meski demikian, di tengah segala kondisi tersebut SAP berhasil meraih pertumbuhan pendapatan produk sebesar 12 persen di 2006. Selain itu, perusahaan asal Jerman ini juga berhasil menambah 55 pelanggan baru dengan pertumbuhan pendapatan layanan sebesar 4 persen.Dari hasil yang diraih tersebut, SAP mencanangkan dapat meningkatkan pendapatan produknya lebih dari dua kali lipat di 2007. "Berpatokan pada kuartal tiga dan empat, kami berani memasang target 25 persen (untuk pendapatan produk-red), sedangkan penambahan pelanggan targetnya 70 customer di tahun ini," tandas Singgih.
(ash/wsh)