Bajakan Marak, Pengembang Lokal Kabur ke Luar Negeri
- detikInet
Jakarta -
Maraknya industri software bajakan ternyata sangat berimbas terhadap kelangsungan para pengembang lokal untuk berkarya di dalam negeri. Mereka yang merasa industri ini di Indonesia tidak menjanjikan masa depan yang cerah, akhirnya memutuskan untuk berkarya di negara lain."Mereka (pengembang lokal-red) akhirnya pada kabur ke luar negeri, meski di negara lain juga ada pembajakan namun mereka merasa lebih mendapatkan fasilitas dan peluang disana," ujar Djarot Subiantoro, Ketua Aspiluki (Asosiasi Piranti Lunak Indonesia), kepada wartawan di sela-sela acara Konferensi Internasional dan Rakornas Telematika KADIN 2007 di Hotel Ritz Carlton Jakarta, Selasa petang (20/2/2007).Sekalipun ada, lanjut Djarot, untuk di Indonesia mereka akan lebih bermain di sektor enterprise dengan alasan untuk lebih survive. Pasalnya, di sektor software untuk konsumer yang biasa orang gunakan sehari-hari cenderung lebih mudah dan sering dibajak. Untuk itu, diperlukan peran pemerintah untuk kelangsungan para pengembang lokal ini. "Penegakan hukum harus tetap dijalankan namun dalam taraf yang wajar, di samping perlu adanya edukasi sejak dini," tambahnya.Pemerintah juga dituntut untuk dapat berperan aktif dalam menciptakan peluang pasar dalam pendistribusian produk yang dihasilkan. Seperti realisasi pengadaan software di pemerintah untuk pengembang lokal yang harus diperbesar. Sehingga diharapkan, jika sudah tercipta pasar yang mampu menyerap produk yang dihasilkan, ada investor yang mulai melirik untuk menanam modal di sektor ini.Padahal kalau melihat sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia dinilai cukup menjanjikan untuk memberikan kemajuan bagi bangsa ini. "Meski secara kolaboratif dirasa masih lemah, tetapi inilah yang menjadi tantangan ke depannya," tandas Djarot.
(ash/ash)