Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Mengenalkan Komputer Kepada Buruh Migran

Mengenalkan Komputer Kepada Buruh Migran


- detikInet

Batam - Merantau ke negeri orang, tak gentar dilakukan Mira Sari, 20, demi meraup rejeki meski harus menjadi pembantu rumah tangga. Dengan iming-iming penghasilan sebesar 385 ringgit per bulan, Sari pun menginjakkan kakinya ke Malaysia pada 12 Mei 2004. Namun, selama 22 bulan "berkarir" di Malaysia, tak sepeser pun gaji sampai ke tangannya.Kini Sari terlihat antusias mengikuti pelajaran pengenalan komputer di Community Technology Learning Center (CTLC) di Batamindo, Batam. Tangannya sibuk menekan tombol-tombol keyboard, mengetikkan kata demi kata di aplikasi Microsoft Word. Program pelatihan yang diikutinya selama dua minggu, membuatnya mampu menguasai dasar-dasar aplikasi Microsoft Office seperti Word, Excel, Powerpoint serta pengenalan internet dan e-mail. "Saya akan terus belajar untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik," ungkap Sari.Sari yang hanya lulusan SD, tampak antusias mengupayakan masa depan yang lebih baik. Meski masa lalunya diwarnai penelantaran hak, Sari meyakini pengenalan komputer yang dipelajarinya akan lebih membuka wawasannya sehingga bisa lebih berhati-hati dengan iming-iming janji.Meningkatkan Daya TawarMeski tidak mengalami penganiayaan fisik, apa yang menimpa Sari tetap patut disayangkan. Diceritakan Sari, dirinya benar-benar tertarik dengan tawaran bekerja di Malaysia dengan harapan dapat memperbaiki taraf hidupnya. Oleh agennya dia ditempatkan di sebuah keluarga di kawasan Damansara, Propikana Golf, Malaysia. Sari pun menandatangani kontrak kerja 2 tahun. Gaji yang diterimanya akan dipotong lima bulan untuk biaya dokumen, termasuk paspor dan visa, biaya pelatihan, perjalanan dan biaya hidup selama di karantina.Tapi kenyataan berkata lain. Majikannya memutuskan kontrak kerjanya secara sepihak, sebelum usia kerjanya genap dua tahun. Sari memang sempat menandatangani kuitansi gaji yang ternyata hanya 5.775 ringgit, tapi uang itu diteruskan melalui agen dan baru sampai di tangannya dua minggu kemudian.Sari lalu menitipkan uang tersebut kepada seorang temannya (St). Namun, nasib buruk masih saja menemaninya. Sari masih harus menjalani hari-hari buruknya selama dua minggu di penjara khusus wanita, karena tertangkap polisi Malaysia saat bepergian bersama St tanpa membawa paspor. Mereka dituduh melakukan penipuan saat St menyodorkan paspor lain. Sari harus berlapang dada karena akhirnya dideportasi ke Tanjung Pinang, Kepulauan Riau dan tidak membawa uang sepeser pun.Sofie, aktivis dari LSM Sirih Besar, Tanjung Pinang, adalah orang yang mengantarkan Sari sampai ke penampungan Shelter Komisi Migran. Di penampungan, selain menjalani program pemulihan dan pendampingan hukum, Sari diberi keterampilan tambahan berupa pengenalan komputer, yang langsung diakrabinya dalam waktu dua hari."Para pencari kerja selalu berada di posisi lemah. Mereka tidak punya daya tawar karena keterbatasan kemampuan dan keterampilan," ujar Sofie. "Kemampuan dasar teknologi informasi (TI) yang diberikan, diharapkan dapat meningkatkan daya tawar mereka di lapangan kerja."Lola Wagner, pendiri Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Yayasan Mitra Kesehatan dan Kemanusiaan (YMKK) di Batam, juga punya harapan yang sama atas nasib para buruh migran. Menurutnya, tanpa keterampilan yang memadai para buruh sering kali hanya menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking).Lola berharap, kehadiran CTLC di Batamindo, dapat menjadi wadah pelatihan keterampilan TI bagi para calon tenaga kerja yang akan ke luar negeri. "Pengenalan internet misalnya, diharapkan menjadi alternatif sumber informasi bagi para calon tenaga kerja, sehingga meningkatkan kepedulian mereka terhadap masa depannya," papar Lola.CTLC untuk Buruh MigranKehadiran CTLC di Tanjung Pinang dan Batam, merupakan bagian dari sejumlah CTLC yang didirikan Microsoft di Indonesia. Dua CTLC tersebut khusus ditujukan bagi para buruh migran dan korban perdagangan manusia. Keduanya merupakan embrio dari 3 CTLC lainnya yang akan dikembangkan di propinsi ini dalam tahun 2006. Jadi sampai akhir tahun, ditargetkan akan ada lima CTLC di Kepulauan Riau.Tanjung Pinang dan Batam sendiri merupakan kawasan "strategis" lalu-lintas calon tenaga kerja yang ingin ke Singapura dan Malaysia. Namun, tak sedikit dari para pencari kerja yang kemudian malah menjadi korban perdagangan manusia. Data United Nation Fund for Woman Empowerment, 250.000 dari 700.000 orang yang menjadi korban perdagangan manusia adalah dari Asia Tenggara, termasuk dari Batam dan Tanjung Pinang. CTLC di Kepulauan Riau digelar Microsoft dalam donasi Unlimited Potential (UP), untuk mencegah perdagangan manusia. Program ini juga terdistribusi di negara Asia lainnya seperti Kamboja, India, Indonesia, Filipina, Singapura dan Thailand. Dalam program ini, kontribusi yang diberikan berupa uang tunai dan software sebesar total US$ 10.038.256.Microsoft berencana meningkatkannya melalui 40 LSM, termasuk diantaranya yang berada di Sri Lanka, Bangladesh, Nepal dan Vietnam. (nks)Keterangan foto: (Atas) Mira Sari di tempat belajar komputer (kanan). (Bawah) CTLC Sirih Besar. (ketepi/ketepi)






Hide Ads
LIVE