Migrasi Frekuensi Berlarut
Telkom Berpotensi Rugi Rp 50 M per Bulan
- detikInet
Jakarta -
Dirut PT Telkom Tbk. Arwin Rasyid mengeluhkan lambatnya proses migrasi frekuensi Flexi dari 1900 Mhz ke 800 Mhz di area Jabotabek dan Jabar. Akibatnya, terjadi ketidakpastian dalam layanan flexy."Belum selesainya proses migrasi, membuat kami tidak bisa memperluas jaringan sehingga kualitas layanan akan turun. Itu tentu jelas menurunkan potensi (bisnis) kami," tandas Arwin dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR, Senin (18/9/2006).Arwin pun mengambil asumsi 1 juta pelanggan Flexi dengan belanja pulsa rata-rata Rp 50 ribu per bulan tiap pelanggan. "Maka Telkom berpotensi kehilangan pendapatan sebesar Rp 50 miliar rupiah per bulan, atau Rp 600 miliar per tahun," ujarnya.Terkait dengan lambatnya proses migrasi itu, ia juga mengakui bahwa Telkom belum mencapai kesepakatan business-to-business (B2B) dengan operator Fren, Mobile8, yang telah menduduki frekeunsi 800 Mhz sebelumnya.Bertolak-belakang dengan penjelasan Arwin tersebut, Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar justru mengatakan bahwa kesepakatan B2B antar sudah hampir final. Kesepakatan tersebut akan dikukuhkan dalam Peraturan Menteri (Permen) tentang pembagian kanal yang akan dikeluarkan bulan ini.Dalam Permen tersebut, jelas Basuki, sudah ada kepastian bahwa Telkom akan menerima 3 kanal, sedangkan Mobile8 akan mendapatkan 4 kanal.Keharusan migrasi frekuensi Flexi ke 800 Mhz tersebut juga harus ditanggung oleh layanan StarOne milik Indosat. Sebabnya, frekuensi 1900 Mhz harus dikosongkan untuk penggunaan layanan 3G. Permasalahan kemudian muncul, karena frekuensi 800 mhz sudah telanjur diduduki 2 operator, yaitu Bakrie Telecom dengan layanan Esia-nya dan Mobile8. Pemerintah kemudian mengharuskan antar keempat operator tersebut melakukan kerjasama B2B.Telkom diharuskan bermitra dengan Mobile8, sedangkan Indosat harus bekerjasama dengan Bakrie Telecom. Hingga saat, kerjasama B2B antar operator tersebut belum berjalan mulus. (dbu)
(donnybu/)