Enterprise Tech
Negara Berkembang Berpotensi Dongkrak Industri Ponsel
- detikInet
Singapura -
Menurut para pemain industri telekomunikasi, untuk ke depannya pertumbuhan industri ponsel ada di 'tangan' negara-negara yang sedang berkembang.Meski tingkat pendapatan konsumennya tidak sebanding dengan negara kaya, namun prospek pertumbuhan industri ponsel di negara yang sedang berkembang secara keseluruhan diperkirakan bakal jauh lebih baik.Hal ini diungkapkan beberapa eksekutif telekomunikasi di ajang CommunicAsia2006 di Raffles City Convention Centre, Singapura."Pertumbuhan industri mobile nantinya tak lagi datang dari orang-orang 'berdasi'," ujar Andrew Buay, Chief Operating Officer of Globe Telecom, Operator Telekomunikasi asal Pilipina."Untuk ke depannya, pertumbuhan pelanggan akan datang dari negara yang tingkat GDP-nya (Gross Domestic Product) kurang dari US$ 1.000 per kapita," jelas Buay, seperti dikutip detikINET dari AFP, Rabu (21/06/2006).Sebagai informasi, CommunicAsia2006 digelar mulai 20-23 Juni 2006 di Singapura. Salah satu tim detikINET pun berkesempatan langsung menyaksikan acara ini. Sebanyak 21 kelompok paviliun internasional hadir termasuk Korea, Uni Eropa, Cina, dan juga Indonesia. Para pemain utama industri pada pameran ini mencakup Siemens, Ericsson, Huawei, ZTE, NTT Docomo, Lucent, Motorola, Sony Ericsson, Samsung dan LG.95,5 Juta Konsumen Belum 'Disentuh'Menurut penelitian, jumlah pelanggan mobile di penjuru dunia kurang lebih mencapai 2,2 miliar orang. Jumlah ini diperkirakan akan naik menjadi 3 miliar menjelang akhir 2008.Para pemain industri mengatakan, negara Asia yang masuk dalam kategori pertumbuhan tinggi termasuk Pakistan, Indonesia, Cina, India dan Pilipina, merupakan kawasan yang sebagian besar konsumennya belum 'disentuh'."Pakistan merupakan salah satu pasar yang pertumbuhannya paling cepat. Pasarnya sangat besar," tutur Mubashir Naqvi, Vice President for Commercial Operations Ufone, salah satu operator telekomunikasi.Menurut Naqvi, ada sekitar 95,5 juta konsumen potensial di Pakistan yang belum 'disentuh' industri ponsel. Padahal ada enam operator mobile yang beroperasi di negara itu. (dwn)
(dewidya/)