Soal Software, Vietnam Unggul Karena Komunisme?
- detikInet
Jakarta -
Soal industri piranti lunak Indonesia disebut masih kalah dari beberapa tetangga dekat, termasuk Vietnam. Salah satu keunggulan Vietnam adalah komunisme? Unggulnya Vietnam diungkap Direktur Telematika Departemen Perindustrian, Ramon Bangun, dalam kesempatan Seminar CommunicAsia, di Hotel Gran Hyatt, Jakarta, Rabu (17/5/2006). Vietnam, India, dan Singapura disebut Ramon sebagai beberapa negara dekat yang lebih baik perkembangan piranti lunaknya daripada Indonesia. Ketua Umum Asosiasi Piranti Lunak Telematika Indonesia (Aspiluki) Djarot Subiantoro mengakui hal itu. Menurut Djarot, ada dua hal yang membuat Vietnam lebih unggul dari Indonesia. "Pertama, Vietnam pernah secara masif kirim orang ke Amerika Serikat, ke Silicon valley, untuk belajar software. Kedua, Vietnam adalah negara komunis, sehingga kalau disuruh A (oleh pemerintah-red) yang lain ikut A," ujarnya dalam Developers Day yang digelar Kamis (18/5/2006). "Dari segi Sumber Daya Manusia (SDM), kita nggak kalah. Tapi dua hal itu membuat mereka lebih unggul dari kita," ujar Djarot menegaskan. Hingga kini Vietnam, yang nama resminya adalah Republik Sosialis Vietnam, masih menganut sistem satu partai: Partai Komunis Vietnam. Meski demikian, negara yang pernah terbagi antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan itu diketahui lebih fokus pada pengembangan ekonomi daripada ideologi.Dalam hal ini Djarot menekankan pentingnya peranan pemerintah untuk ikut mendorong industri piranti lunak di Indonesia. Ia mencontohkan di Vietnam ada dorongan untuk mengikuti kompetisi Apicta (Asia Pacific ICT Awards) sejak tingkat sekolah dasar. Sedangkan di Indonesia tidak ada dorongan semacam itu. "Sebenarnya yang kita butuhkan adalah e-leadership dan roadmap yang pasti untuk industri IT. Itu kan yang kita belum punya, India saja 20 tahun yang lalu sudah punya hal itu. Kita kan cuma sebatas strategi saja," Djarot melanjutkan. Namun ia menegaskan, pemerintah bukan satu-satunya yang perlu dirongrong. "Kita nggak bisa nyalahin pemerintah saja. Karena selama ini inisiatif juga kebanyakan dari pemerintah, seharusnya kan tidak hanya dari pemerintah saja tapi dari berbagai pihak juga," Djarot menambahkan.Tragisnya, ujar Djarot, negara-negara lain seperti India sebenarnya mencari inspirasi strategi Teknologi Informasi (TI) nasional dari negara lain seperti Indonesia. "Bedanya kalau mereka, setelah direncanakan dibuat ketetapan. Di kita, hanya jadi strategi saja," tukasnya. Djarot menargetkan, pada 2009 jumlah programmer di Indonesia bisa mencapai 300 ribu orang. Dan jumlah ISV (Independent Software Vendor), mencapai sekitar 400-500 perusahaan. Saat ini, Djarot mengutip data IDC, jumlah ISV mencapai sekitar 200-250 perusahaan di Indonesia dengan jumlah programmer 60 ribu orang. (wsh)
(ketepi/)