Microsoft Akuisisi Activision Blizzard Senilai Hampir Rp 1.000 Triliun

Microsoft Akuisisi Activision Blizzard Senilai Hampir Rp 1.000 Triliun

Adi Fida Rahman - detikInet
Rabu, 19 Jan 2022 07:47 WIB
Xbox Activision
Foto: The Verge
Jakarta -

Microsoft dikabarkan setuju memenuhi mahar sebesar USD 69 miliar atau hampir Rp 1.000 triliun untuk mengakuisisi perusahaan game Activision Blizzard. Ini akan menjadi akuisisi terbesar dalam sejarah bagi raksasa teknologi yang bermarkas di Redmond, AS itu.

Kesepakatan tersebut diumumkan Microsoft pada Selasa (18/1/2022) waktu setempat. Bila akuisisi tersebut rampung akan menjadikan Microsoft sebagai perusahaan gaming ketiga terbesar di dunia setelah Tencent dan Sony, sekaligus menguatkan pondasi metaverse yang sudah dicanangkan sebelumnya.

"Game adalah kategori hiburan paling dinamis dan menarik di semua platform saat ini dan akan memainkan peran kunci dalam pengembangan platform metaverse," kata Satya Nadella, CEO Microsft dikutip dari Reuters.

Microsoft akan membayar USD95 per saham secara tunai untuk menambahkan game Call of Duty, Warcraft, Candy Crush, Tony Hawk's Pro Skater, Overwatch, Spyro, Hearthstone, Guitar Hero, Crash Bandicoot, StarCraft, dan masih banyak judul-judul lainnya yang bernaung di Activision Blizzard ke Xbox Game Pass.

"Setelah akuisisi rampung, kami akan menawarkan sebanyak mungkin game Activision Blizzard dalam Xbox Game Pass dan PC Game Pass, baik judul baru maupun game dari katalog Activision Blizzard yang luar biasa," kata CEO Microsoft Game Phil Spencer.

CEO Activision Bobby Kotick sendiri akan terus menjabat hanya sampai kesepakatan ditutup, kata seseorang yang mengetahui kesepakatan itu. Setelah transaksi selesai, bisnis Activision Blizzard akan melapor ke Phil Spancer.

"Sebagai sebuah perusahaan, Microsoft berkomitmen pada perjalanan kami untuk inklusi dalam setiap aspek permainan, baik di antara karyawan dan pemain," kata Spencer. "Kami sangat menghargai budaya studio individu. Kami juga percaya bahwa kesuksesan kreatif dan otonomi berjalan seiring dengan memperlakukan setiap orang dengan bermartabat dan hormat. Kami merangkul semua tim, dan semua pemimpin, untuk komitmen ini. Kami berharap dapat memperluas budaya inklusi proaktif kami ke tim-tim hebat di Activision Blizzard."

Sebelum pencaplokan Activision, Microsoft telah melakukan beberapa akuisisi baru-baru ini untuk meningkatkan daftar studio gamenya. Pada tahun 2020, mereka setuju untuk mengakuisisi ZeniMax Media Inc., rumah bagi penerbit The Elder Scrolls dan Doom Bethesda Softworks, senilai USD 7,5 miliar.

Pada saat itu, ini adalah pembelian video game terbesar Microsoft yang pernah ada. Perusahaan besutan Bill Gates ini sebelumnya menghabiskan USD 2,5 miliar pada tahun 2014 untuk membeli Mojang, pembuat Minecraft, game pembangunan dunia maya populer yang dipandang sebagai jalan menuju ambisi metaverse masa depan perusahaan.

Microsoft berharap dapat menutup kesepakatan pada tahun fiskal 2023. Namun jalan tersebut bakal tidak mulus, sebab regulator AS telah mengisyaratkan mereka akan jauh lebih agresif dalam mengevaluasi akuisisi besar, terutama di industri teknologi. Belum lagi sejumlah kasus yang membelit Activision sebelumnya, salah satunya pelecehan seksual.



Simak Video "Microsoft Batalkan Kehadiran di CES 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(afr/afr)