Robot Akan Rebut 20 Juta Lapangan Kerja Tahun 2030

Ancaman AI

Robot Akan Rebut 20 Juta Lapangan Kerja Tahun 2030

Virgina Maulita Putri - detikInet
Sabtu, 24 Apr 2021 21:31 WIB
Restoran pekerjakan robot di Maastricht, Belanda.
Robot Akan Rebut 20 Juta Lapangan Kerja Tahun 2030 Foto: (Reuters)
Jakarta -

Salah satu yang dikhawatirkan dari kecanggihan teknologi robot dan kecerdasan buatan adalah keberadaannya bisa menggusur peran manusia. Bahkan robot diprediksi bisa merebut 20 juta lapangan kerja di seluruh dunia pada tahun 2030.

Ini adalah prediksi dari Oxford Economics yang diterbitkan pada tahun 2019 lalu. Dalam studi tersebut, mereka memperkirakan dalam sembilan tahun ke depan mungkin akan ada 14 juta robot yang dipekerjakan hanya di China saja.

Analisa ini dibuat pakar ekonomi dengan melihat tingkat adopsi otomasi di tempat kerja. Dalam dua dekade terakhir penggunaan robot di seluruh dunia meningkat tiga kali lipat menjadi 2,25 juta.

Dikerahkannya robot di tempat kerja diperkirakan akan membawa keuntungan dari segi produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Tapi peneliti juga mengakui akan ada isu yang harus dihadapi di saat bersamaan.

"Sebagai hasil dari robotisasi, puluhan juta pekerjaan akan hilang, terutama di ekonomi lokal yang lebih miskin yang mengandalkan pekerja berketerampilan rendah. Oleh karena itu, hal ini akan meningkatkan ketimpangan pendapatan," kata penulis studi tersebut, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu (24/4/2021).

Berdasarkan laporan tersebut, lebih dari 1,5 juta pekerjaan di Amerika Serikat akan diambil alih oleh robot pada tahun 2030. Sedangkan di Uni Eropa, sekitar 2 juta orang akan kehilangan pekerjaan karena otomasi.

Di China, angka tersebut diperkirakan akan mencapai lebih dari 11 juta pekerjaan. Saat ini satu dari lima robot yang ada di dunia dipekerjakan di China.

Meski puluhan juta orang terancam kehilangan pekerjaannya, laporan ini meminta regulator untuk tidak menghambat perkembangan otomasi.

"Temuan ini seharusnya tidak membuat pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan lainnya untuk berusaha menggagalkan adopsi teknologi robot," kata penulis studi tersebut.

"Sebaliknya tantangannya adalah untuk mendistribusikan keuntungan robotika secara lebih merata dengan membantu pekerja yang rentan bersiap dan beradaptasi dengan perubahan yang akan terjadi," sambungnya.

Peneliti juga menyarankan pemerintah untuk memberi insentif keuangan bagi perusahaan dan pekerja yang terlibat dalam program lokal untuk melatih pekerja. Mereka juga meminta pembuat kebijakan untuk mengembangkan program yang agresif untuk melawan dampak negatif dari otomasi.

Para pekerja juga diminta untuk mengaudit pekerjaannya untuk memahami keseimbangan antara keterampilan manusia yang dibutuhkan dan keterampilan yang berpotensi diambil alih oleh mesin dan robot.

"Adopsi pola pikir 'belajar seumur hidup.' Tidak ada pekerjaan untuk seumur hidup," kata peneliti.



Simak Video "Singgung Space War, Jokowi Ingin BPPT Jadi Pusat Kecerdasan RI"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/fay)