Bentuk Aliansi, Standar ODF Gencar Dipromosikan
- detikInet
Jakarta -
Teknologi diakui mampu menyulap berbagai aktivitas yang dulunya manual menjadi serba elektronik. Pemerintah pun sudah membuat dan menyimpan laporan, arsip dan dokumennya dalam bentuk digital.Tapi masalahnya, bagaimana jika format dokumen itu sudah usang atau tidak bisa dibaca oleh orang yang memakai software dari perusahaan lain? Untuk menanggulangi masalah itu, 30 perusahaan, beberapa grup perdagangan, institusi akademik dan organisasi profesional membentuk persekutuan bernama "OpenDocument Format Alliance".Aliansi ini akan difokuskan untuk mempromosikan penggunaan standar open teknologi oleh pemerintah. "Tujuannya adalah untuk memastikan agar masyarakat bisa mencari, mendapatkan kembali dan memanfaatkan informasi pemerintah yang penting," ujar Patrice McDermott, Deputy Director of Government Relations untuk American Library Association.Aliansi ini mendukung OpenDocument Format (ODF). Adalah standar untuk menyimpan dan mengganti file dokumen seperti word processing, chart, presentation dan spreadsheet. Standar ini bisa diimplementasikan siapa saja tanpa ada restriksi.Aliansi ini juga terdiri dari beberapa grup profesional seperti asosiasi perpustakaan dan universitas seperti Institut Teknologi India. Bahkan, anggotanya termasuk rival Microsoft, seperti IBM dan Sun Microsystems."Ini bukan gerilya, grup anti-Microsoft," tegas Simon Phipps dari Sun Microsystems, seperti diberitakan CnetNews dan dikutip detikINET Jumat (03/03/2006).Memang format dokumen yang paling banyak dipakai saat ini adalah Microsoft Office. Lebih dari 90 persen konsumen memakai Office. Microsoft juga mendukung open standar untuk beberapa dokumen yang dijuluki "OpenXML Document Format".Bahkan di Microsoft Office 2007, yang rencananya akan dikapalkan pada semester kedua 2006, OpenXML akan menjadi format default penyimpanan dokumen. Beberapa pendukung format OpenXML termasuk Intel, Apple Computer, Toshiba, BP dan British Library. (dwn)
(ien/)